Metafora batu dan hati dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 74 memberikan dasar konseptual bagi pendidikan Islam, khususnya dalam pembinaan karakter dan kesadaran spiritual. Penelitian ini bertujuan menganalisis makna metaforis batu dan hati serta relevansinya terhadap proses pendidikan Islam. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan analisis tafsir dan studi literatur. Data diperoleh dari Al-Qur’an, hadis, kitab tafsir, literatur fiqh, kajian geologi, dan referensi pendidikan Islam. Analisis menggunakan teori metafora konseptual untuk menjelaskan hubungan antara sifat fisik batu dan kondisi batin manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa batu tidak hanya merepresentasikan kekerasan dan keteguhan secara geologis, tetapi juga berfungsi sebagai sarana penyucian dalam fiqh. Dalam tafsir ayat tersebut, batu digambarkan mampu memancarkan air, terbelah, dan tunduk kepada Allah, sedangkan hati manusia dapat menjadi lebih keras daripada batu ketika kehilangan kepekaan terhadap kebenaran. Temuan ini menegaskan bahwa kekerasan hati bukan kondisi final, melainkan keadaan yang masih dapat diubah melalui pendidikan spiritual, pembiasaan moral, keteladanan, refleksi diri, dan penguatan pengalaman religius. Dengan demikian, pendidikan Islam tidak cukup berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga harus diarahkan pada pelunakan hati, pembentukan empati, dan penguatan kesadaran etis-spiritual. Proses ini menuntut pendekatan bertahap, konsisten, dan integratif agar peserta didik mampu menghayati ajaran agama serta mewujudkannya dalam perilaku beradab sehari-hari