Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Kemampuan Critical Thinking Siswa dalam Pembelajaran IPAS di SD Negeri 16 Kota Bengkulu: Penelitian M. Rakel Ibnu Ibrahim; Choldia Heldianti Usiwardani; Heny Friantary
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i4.6372

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan critical thinking siswa dalam pembelajaran IPAS di SD Negeri 16 Kota Bengkulu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian terdiri atas guru IPAS dan siswa kelas V. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan critical thinking siswa dalam pembelajaran IPAS berada pada kategori cukup baik. Siswa telah mampu mengidentifikasi masalah, menganalisis informasi, menyampaikan pendapat, menarik kesimpulan, dan memberikan solusi terhadap permasalahan sederhana yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Namun, kemampuan berpikir kritis siswa masih belum merata karena sebagian siswa masih mengalami kesulitan dalam memberikan alasan logis dan menghubungkan konsep pembelajaran dengan kondisi nyata di lingkungan sekitar. Faktor pendukung kemampuan critical thinking siswa meliputi penggunaan media pembelajaran yang menarik, penerapan metode diskusi dan tanya jawab, lingkungan belajar yang aktif, serta peran guru dalam memberikan stimulus pertanyaan. Adapun faktor penghambat kemampuan critical thinking siswa meliputi rendahnya minat membaca, kurangnya rasa percaya diri siswa, keterbatasan sarana pembelajaran, dan kebiasaan siswa yang masih terbiasa dengan pembelajaran satu arah. Oleh karena itu, diperlukan pembelajaran yang lebih aktif, inovatif, dan kontekstual agar kemampuan berpikir kritis siswa dapat berkembang secara optimal.