ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana siswa mengonseptualisasikan durian dan tempoyak dalam persepsi linguistik kognitif melalui metafora konseptual. Latar belakang penelitian ini adalah adanya perbedaan persepsi dan selera siswa terhadap durian sebagai buah segar dan tempoyak sebagai hasil fermentasinya, yang menunjukkan bahwa pemahaman terhadap makanan tidak hanya didasarkan pada rasa, tetapi juga pengalaman dan budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan teknik purposive sampling terhadap 55 mahasiswa di Sumatera Seatan yang pernah mengonsumsi durian dan tempoyak. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert dan dianalisis dalam bentuk persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa durian cenderung dipersepsikan secara positif sebagai sumber kenikmatan sensorik dan rasa, sedangkan tempoyak memiliki persepsi yang lebih beragam karena aromanya yang kuat, namun tetap memberikan pengalaman rasa yang khas. Selain itu, ditemukan adanya selera yang tinggi, yaitu siswa yang menyukai durian tetapi tidak menyukai tempoyak, serta sebaliknya dalam jumlah yang lebih sedikit. Penelitian ini berkontribusi dalam bidang pendidikan, khususnya dalam kajian linguistik kognitif, dengan menunjukkan bahwa bahasa, pengalaman, dan budaya berperaan penting dalam membentuk cara individu memahami konsep, termasuk dalam konteks kuliner lokal. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana siswa mengkonseptualisasikan durian dan tempoyak dari perspektif linguistik kognitif, khususnya melalui metafora konseptual. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada perbedaan persepsi dan preferensi siswa terhadap durian sebagai buah segar dan tempoyak sebagai produk fermentasinya, yang menunjukkan bahwa pemahaman tentang makanan tidak hanya dipengaruhi oleh rasa tetapi juga oleh pengalaman dan budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan menggunakan purposive sampling yang melibatkan 55 mahasiswa di Sumatera Selatan yang telah mengonsumsi durian dan tempoyak. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert dan dianalisis menggunakan analisis persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa durian umumnya dipersepsikan positif sebagai sumber kenikmatan sensorik dan rasa, sedangkan tempoyak menerima respon yang lebih beragam karena aromanya yang kuat, meskipun tetap memberikan pengalaman rasa yang unik. Selain itu, ditemukan konten yang menarik dalam preferensi, di mana beberapa siswa menyukai durian tetapi tidak menyukai tempoyak, dan sebaliknya dalam jumlah yang lebih kecil. Penelitian ini berkontribusi pada bidang pendidikan, khususnya dalam linguistik kognitif, dengan menunjukkan bahwa bahasa, pengalaman, dan budaya memainkan peran penting dalam membentuk bagaimana individu memahami konsep, termasuk dalam konteks kuliner lokal.