Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DEMOKRASI BERWARNA: SEMIOTIKA WARNA, IDEOLOGI, DAN POLITIK REPRESENTASI DALAM POSTER 17+8 TUNTUTAN RAKYAT INDONESIA Khalid, Fathir; Mahesa, Dzikri Cahya; Mufidah, Ghina; Yunus, Yunus
Literasi : Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pembelajarannya Vol 10, No 1 (2026): JURNAL LITERASI APRIL 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/literasi.v10i1.24077

Abstract

Poster “17+8 Tuntutan Rakyat Indonesia” berfungsi lebih dari sekadar daftar tuntutan politik; ini adalah strategi visual yang membangun ideologi perlawanan melalui warna. Mengambil inspirasi dari semiotika Saussure, mitologi visual Barthes, dan psikologi warna modern, poster ini menggunakan hijau dan merah muda sebagai sistem tanda untuk membentuk makna politik. Hijau melambangkan legitimasi organik perjuangan rakyat, membangkitkan tema ekologi, keberlanjutan, dan materialitas kehidupan. Ia mencerminkan hubungan moral antara manusia dan alam, memposisikan perlawanan sebagai keharusan alami dan etis. Sementara itu, merah muda digunakan kembali untuk menegaskan peran perempuan dalam ranah politik yang secara historis didominasi oleh citra maskulin. Jauh dari pasif, merah muda di sini menjadi simbol feminitas yang aktif dan terorganisir. Bersama-sama, hijau dan merah muda membentuk bahasa visual komposit yang melampaui makna individualnya, mewakili demokrasi inklusif dan solidaritas interseksional. Pasangan warna ini menantang fragmentasi dalam gerakan progresif, menawarkan wacana visual yang terpadu. Dengan demikian, poster menjadi alat bukan hanya untuk komunikasi tetapi juga untuk mobilisasi di mana warna digunakan sebagai kekuatan diskursif untuk menumbuhkan kesadaran kolektif, memperkuat persatuan, dan memperluas keterlibatan politik. Melalui lensa ini, poster adalah artefak sekaligus intervensi, menggunakan desain visual untuk mengartikulasikan dan memperkuat perlawanan.
Transfiks dan I‘lāl pada Konstruksi Fi‘il Mu‘tal dalam Animasi Saladin Mahesa, Dzikri Cahya; Akmaliyah, Akmaliyah
Aphorisme: Journal of Arabic Language, Literature, and Education Vol. 7 No. 2 (2026): Arabic Language, Literature, and Education
Publisher : Study Program of Arabic Language Teaching

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/aphorisme.v7i2.10274

Abstract

This study aims to analyze the relationship between transfixation and i‘lāl in the formation of Arabic weak verbs by examining the transformation from underlying forms to surface forms. This study employed qualitative content analysis using morphological and morphophonemic approaches. The data were collected from the first episode of Saladin: The Animated Series through non-participatory observation and note-taking techniques. Data analysis involved identifying roots, determining wazan, applying transfixation, reconstructing underlying forms, and analyzing i‘lāl to produce surface forms. The study identified 260 verb tokens, from which 127 verb patterns were selected as research data, consisting of 80 strong verbs and 47 weak verbs. The findings reveal that transfixation alone is sufficient to generate the correct forms of strong verbs, whereas weak verbs require i‘lāl to transform underlying forms into acceptable surface forms. These findings demonstrate that transfixation and i‘lāl constitute complementary and sequential processes within Arabic internal modification. This study contributes to Arabic morphological theory by integrating roots, wazan, transfixation, underlying forms, i‘lāl, and surface forms into a unified analytical framework for explaining weak verb formation.