Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pabrik Gula sebagai Arena Sosial: Kajian Literatur tentang Akses dan Mutu Pendidikan Anak Petani Tebu Melalui Kacamata Pierre Bourdieu Musdalifah; Syamsu A. Kamaruddin; Arlin Adam
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN BUDAYA Vol 6 No 1 (2026): April (EDULEC)
Publisher : CV. Eureka Murakabi Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56314/edulec.v6i1.438

Abstract

Industri gula merupakan sektor strategis dalam ekonomi pedesaan Indonesia, yang tidak hanya memengaruhi pendapatan petani tetapi juga membentuk struktur sosial dan akses terhadap pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana keberadaan pabrik gula memengaruhi akses dan mutu pendidikan anak petani tebu, menggunakan pendekatan kajian literatur sistematis dan dianalisis melalui kerangka teori Pierre Bourdieu. Kajian mencakup literatur peer-reviewed dan laporan akademik dari 2010 hingga 2025 yang membahas industri gula, ketimpangan sosial, pendidikan pedesaan, dan modal sosial-budaya-ekonomi. Hasil kajian menunjukkan bahwa pabrik gula berfungsi sebagai arena sosial di mana distribusi kapital ekonomi, budaya, sosial, dan simbolik tidak merata. Ketergantungan petani pada pabrik menyebabkan subordinasi ekonomi, memengaruhi kemampuan keluarga dalam membiayai pendidikan anak. Habitus agraris yang menekankan kerja fisik lebih tinggi daripada pendidikan formal berkontribusi pada rendahnya aspirasi akademik anak, sementara kapital sosial dan budaya yang terbatas membatasi akses terhadap informasi pendidikan dan peluang pengayaan. Hasil sintesis literatur menunjukkan bahwa ketimpangan pendidikan anak petani merupakan fenomena reproduksi lintas generasi yang bersifat struktural dan multidimensional. Penelitian ini menyarankan intervensi holistik yang mencakup penguatan modal budaya keluarga, peningkatan mutu sekolah pedesaan (guru, fasilitas, TIK), serta reformasi struktur industri gula, termasuk kebijakan harga adil dan program CSR berbasis transformasi sosial. Studi ini berkontribusi pada pemahaman bagaimana struktur ekonomi-industri dan praktik sosial di pedesaan membentuk akses pendidikan, serta memberikan dasar bagi pengembangan kebijakan pendidikan dan pembangunan pedesaan yang lebih inklusif.
Keadilan Lingkungan dalam Bayang-Bayang Pariwisata: Analisis Sosiologi Farmasi atas Risiko Kesehatan Lingkungan pada Masyarakat Kawasan Pariwisata Bali Muhammad khaerul Nur; Syamsu A. Kamaruddin; Arlin Adam; Ahmadin Ahmadin
Indonesian Journal of Intellectual Publication Vol. 6 No. 3 (2026): Juli 2026, IJI Publication
Publisher : Perkumpulan Intelektual Madani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51577/ijipublication.v6i3.965

Abstract

Fenomena meningkatnya aktivitas pariwisata di Bali, khususnya di kawasan Pantai Kuta, tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memunculkan persoalan lingkungan dan kesehatan yang berdampak pada masyarakat lokal. Tingginya produksi limbah, pencemaran pesisir, serta ketimpangan akses layanan kesehatan menunjukkan adanya ketidakadilan lingkungan antara masyarakat lokal, wisatawan, dan pelaku industri pariwisata. Penelitian ini bertujuan menganalisis distribusi risiko kesehatan lingkungan serta faktor struktural yang memengaruhi ketimpangan tersebut melalui perspektif sosiologi farmasi. Penelitian menggunakan pendekatan mixed-method dengan dominasi kualitatif. Data kuantitatif diperoleh melalui kuesioner terhadap 45 responden yang terdiri atas masyarakat lokal, wisatawan, dan stakeholder pariwisata, sedangkan data kualitatif diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi lapangan. Analisis data dilakukan secara deskriptif-komparatif untuk mengidentifikasi perbedaan tingkat risiko kesehatan dan akses layanan kesehatan antar kelompok sosial, kemudian diperdalam melalui analisis tematik untuk menjelaskan relasi kekuasaan, distribusi modal, dan kerentanan sosial dalam pengelolaan kesehatan lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat lokal mengalami paparan risiko kesehatan lebih tinggi dibandingkan wisatawan dan stakeholder, sementara kapasitas akses layanan kesehatan mereka relatif lebih rendah. Temuan ini menegaskan bahwa modernitas pariwisata turut mereproduksi ketimpangan keadilan lingkungan di kawasan wisata Bali.
Keadilan Lingkungan dalam Bayang-Bayang Pariwisata: Analisis Sosiologi Farmasi atas Risiko Kesehatan Lingkungan pada Masyarakat Kawasan Pariwisata Bali Muhammad khaerul Nur; Syamsu A. Kamaruddin; Arlin Adam; Ahmadin Ahmadin
Indonesian Journal of Intellectual Publication Vol. 6 No. 3 (2026): Juli 2026, IJI Publication
Publisher : Perkumpulan Intelektual Madani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51577/ijipublication.v6i3.965

Abstract

Fenomena meningkatnya aktivitas pariwisata di Bali, khususnya di kawasan Pantai Kuta, tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memunculkan persoalan lingkungan dan kesehatan yang berdampak pada masyarakat lokal. Tingginya produksi limbah, pencemaran pesisir, serta ketimpangan akses layanan kesehatan menunjukkan adanya ketidakadilan lingkungan antara masyarakat lokal, wisatawan, dan pelaku industri pariwisata. Penelitian ini bertujuan menganalisis distribusi risiko kesehatan lingkungan serta faktor struktural yang memengaruhi ketimpangan tersebut melalui perspektif sosiologi farmasi. Penelitian menggunakan pendekatan mixed-method dengan dominasi kualitatif. Data kuantitatif diperoleh melalui kuesioner terhadap 45 responden yang terdiri atas masyarakat lokal, wisatawan, dan stakeholder pariwisata, sedangkan data kualitatif diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi lapangan. Analisis data dilakukan secara deskriptif-komparatif untuk mengidentifikasi perbedaan tingkat risiko kesehatan dan akses layanan kesehatan antar kelompok sosial, kemudian diperdalam melalui analisis tematik untuk menjelaskan relasi kekuasaan, distribusi modal, dan kerentanan sosial dalam pengelolaan kesehatan lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat lokal mengalami paparan risiko kesehatan lebih tinggi dibandingkan wisatawan dan stakeholder, sementara kapasitas akses layanan kesehatan mereka relatif lebih rendah. Temuan ini menegaskan bahwa modernitas pariwisata turut mereproduksi ketimpangan keadilan lingkungan di kawasan wisata Bali.