Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

REPRESENTASI KEKERASAN SEKSUAL SEKTE AGAMA JMS DALAM SERIES “IN THE NAME OF GOD A HOLY BETRAYAL” Alicia Putri Raja Dima; Mila A. Ramadhani; Zaskia Firyal R.; Allauddin Rafif Irsa; Farrel Rakha Adi Pramana
VOXPOP Vol. 5 No. 1 (2023): VOXPOP
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Feminisme merupakan pemahaman tentang penidnasan dan eksploitasi wanita, mulai di lingkungan keluarga, di lingkungan pekerjaan ataupun di lingkungan sekitar dalam lingkungan masyarakat dan hadirnya perbuatan kesadaran oleh pria dan wanita yang bertujuan mengonversikan situasi dengan pemaknaan dasar. Kekerasan seksual menjadi topik hangat di negara Indonesia. Korban kekerasan seksual kurang mendapat perhatian dari kedua belah pihak baik dari keluarga maupun pihak yang memiliki kewenangan, bahkan kemungkinan diam saat berhadapan dengan pihak yang lebih kuat. Hal ini menimbulkan persepsi negatif dan menyebabkan korban kekerasan seksual menjadi takut untuk melaporkan kejahatan yang dialaminya, serta kurangnya penindakan yang menimbulkan efek jera kepada pelaku dan memungkinkan pelaku kekerasan seksual untuk bertindak bebas karena merasa aman. Fenomena ini diangkat menjadi sebuah film In the Name Of God: A Holy Betrayal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjabarkan dan mempresentasikan kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh pendiri dan pemimpin dari sekte sesat Jesus Morning Star (JMS) yang diangkat di film In the Name Of God: A Holy Betrayal. Penelitian ini menggunakan metode semiotika John Fiske untuk menyampaikan lambing-lambang dan artimendalam dalam film ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggambaran kekerasan seksual dalam film ini menurut John Fiske memiliki tiga level, yaitu level realitas, level representasi, dan level ideologi.
Genre Analysis of Body Horror in Contemporary Hollywood Films (The Substance, Bodies Bodies Bodies, and It’s What’s Inside) Farrel Rakha Adi Pramana; Aulia Rahmawati
International Journal of Social, Economic, and Business Vol. 2 No. 1 (2025): September 2025
Publisher : Lavish Opulent Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65688/ijseb.v2i1.78

Abstract

This article examines the dynamics of the body horror genre in three recent Hollywood films: The Substance (2024), Bodies Bodies Bodies (2022), and It’s What’s Inside (2024). Utilizing Nick Lacey’s "repertoire of elements" model, the study dissects how body horror functions as a site of cultural and ideological discourse, encompassing themes of identity, beauty, technology, and social criticism. Through detailed narrative, character, iconographic, setting, and stylistic analysis, the research demonstrates how body horror, far from being mere spectacle, operates as a potent metaphor for anxieties surrounding the human condition in contemporary society. The findings reveal that these films push the boundaries of horror to engage in a critique of body politics, gender norms, performative culture, and capitalist commodification.