The strong patriarchal norms in Hindu-Balinese society are reflected in the belief that marriage is a stage of life and a moral responsibility to maintain the continuity of the family line, especially sons. For Hindu-Balinese women, this is a reproductive obligation in addition to domestic, public and customary burdens. Ironically, they often lack control over decision-making or ownership of resources, so the post-marriage crisis pushes Gen-Z women to redefine the meaning of marriage and family. This study aims to reveal the views of Gen-Z Hindu-Balinese women in interpreting marriage as a life choice. Through qualitative methods with a life history approach and Stuart Hall's identity perspective, this study shows that Gen-Z negotiates their identity as “Balinese women.” This negotiation process emerges from critical reflections on their experiences of growing up as Hindu-Balinese women, as well as from their observations of post-marital realities. For them, marriage is not simply a moral obligation or a stage in life, but rather a logical choice that aligns with their mental, economic, and personal autonomy. In other words, the uniqueness of this research lies in the efforts of Gen-Z Hindu-Balinese women to negotiate a space of independence without completely abandoning their cultural roots. Abstrak Norma patriarki yang kuat dalam masyarakat Hindu-Bali memposisikan perkawinan sebagai tahapan penting dalam kehidupan sekaligus tanggung jawab moral untuk menjaga keberlanjutan garis keturunan keluarga, khususnya melalui anak laki-laki. Bagi perempuan Hindu-Bali, tuntutan ini menjelma menjadi kewajiban reproduktif yang berlapis dengan beban domestik, publik, dan adat. Ironisnya, di tengah berbagai beban tersebut, perempuan sering kali memiliki keterbatasan dalam pengambilan keputusan maupun kepemilikan sumber daya. Kondisi ini menyebabkan pengalaman pasca-perkawinan kerap memicu krisis yang mendorong perempuan Gen-Z untuk meninjau ulang dan mendefinisikan kembali makna perkawinan dan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pandangan perempuan Hindu-Bali Generasi Z dalam memaknai perkawinan sebagai sebuah pilihan hidup. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan life history serta perspektif identitas Stuart Hall, hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan Gen-Z secara aktif melakukan negosiasi identitas sebagai “perempuan Bali.” Proses negosiasi ini berangkat dari refleksi kritis atas pengalaman mereka tumbuh sebagai perempuan Hindu-Bali serta melihat realitas kehidupan pasca-perkawinan. Bagi mereka, perkawinan tidak lagi dipahami semata-mata sebagai kewajiban moral atau tahapan hidup yang harus dilalui, melainkan sebagai pilihan rasional yang mempertimbangkan kesehatan mental, kemandirian ekonomi, dan otonomi personal. Keunikan penelitian ini terletak pada upaya perempuan Hindu-Bali Generasi Z dalam membangun ruang kemandirian tanpa sepenuhnya meninggalkan akar budaya mereka.