This research was conducted due to the crucial role of informal Islamic educational institutions in addressing the challenges of moral degradation among youth in the digital era, particularly in Jati Datar Village. The main focus of this issue is how to maintain youth social integration in line with religious values. The purpose of this research is to highlight the contribution of Majelis Ta'lim (Islamic study groups) in character formation and creating conditions for active youth participation in society. The method used was a descriptive qualitative approach, and data were collected through observation, documentation, and in-depth interviews with administrators, young congregants, and village leaders. The results show that Majelis Ta'lim has adapted well-from an educational location to a center for youth realization, where they become practitioners in all social and religious activities. Regarding improving discipline in congregational worship and politeness, Majelis Ta'lim is an effective instrument for integration through an interactive and adaptive teaching model. Meanwhile, administrators must continue to innovate in their da'wah models to accommodate youth demands. The contribution of this research lies in strengthening the study of the role of non-formal Islamic educational institutions as agents of youth character development in the digital era, particularly in rural contexts. This study also provides an empirical overview of the adaptive strategies employed by Majelis Ta’lim in attracting and sustaining youth participation. The implications of this research indicate that the development of creative, participatory, and technology-relevant da’wah models is essential to enhance youth engagement. Furthermore, it can serve as a reference for Majelis Ta’lim administrators and policymakers in designing sustainable youth development programs. ABSTRAK Penelitian ini dilakukan karena pentingnya peran lembaga pendidikan Islam informal dalam mengatasi tantangan degradasi moral pemuda di era digital, khususnya di Desa Jati Datar. Fokus utama isu ini adalah bagaimana menjaga integrasi sosial pemuda sejalan dengan nilai-nilai agama. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyoroti kontribusi Majelis Ta’lim dalam pembentukan karakter dan penciptaan kondisi untuk partisipasi aktif pemuda dalam masyarakat. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif, dan data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara mendalam dengan para pengelola, jemaah muda, serta pimpinan desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Majelis Ta’lim telah beradaptasi dengan baik – dari lokasi pendidikan menjadi pusat realisasi pemuda, di mana mereka menjadi praktisi dalam semua kegiatan sosial dan keagamaan. Mengenai peningkatan disiplin ibadah berjamaah dan kesopanan majelis Ta’lim merupakan instrumen yang efektif untuk integrasi melalui model pengajaran yang interaktif dan adaptif. Sementara itu, para pengelola harus terus berinovasi dalam model dakwah untuk mengakomodasi tuntutan remaja. kontribusi penelitian ini terletak pada penguatan kajian tentang peran lembaga pendidikan Islam non-formal sebagai agen pembentukan karakter pemuda di era digital, khususnya dalam konteks pedesaan. Penelitian ini juga memberikan gambaran empiris mengenai strategi adaptif Majelis Ta’lim dalam menarik dan mempertahankan partisipasi pemuda. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan model dakwah yang kreatif, partisipatif, dan relevan dengan perkembangan teknologi sangat diperlukan untuk meningkatkan keterlibatan pemuda, serta dapat dijadikan acuan bagi pengelola Majelis Ta’lim dan pemangku kebijakan dalam merancang program pembinaan generasi muda yang berkelanjutan.