Thyrotoxicosis merupakan kondisi dengan kadar hormon tiroid berlebih yang dapat memengaruhi fungsi saluran cerna, termasuk menyebabkan disfagia akibat peningkatan aktivitas metabolik dan stimulasi sistem saraf simpatis yang berdampak pada motilitas gastrointestinal. Oleh karena itu, deteksi dini sangat penting dan dapat dilakukan melalui pemeriksaan Oesophagus Maag Duodenum (OMD). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pemeriksaan, alasan penggunaan kombinasi media kontras, peran proyeksi anteroposterior (AP) erect, serta alasan dilakukannya pemeriksaan lanjutan Barium Follow Through (BFT) dalam mendukung deteksi dini disfagia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang dilakukan di Instalasi Radiologi RSUD dr. Soedono Madiun pada periode September 2025 hingga Maret 2026, dengan subjek tiga radiografer dan satu dokter spesialis radiologi serta pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosedur pemeriksaan diawali dengan persiapan pasien berupa puasa lebih dari 6 jam dan pelepasan benda logam, dilanjutkan dengan foto polos toraks dan abdomen, kemudian pemeriksaan oesophagus dengan proyeksi AP supine serta maag dan duodenum dengan proyeksi AP supine dan AP erect, dan dilanjutkan dengan pemeriksaan BFT untuk evaluasi usus halus. Media kontras yang digunakan berupa kombinasi barium sulfat dan iodin larut air yang bertujuan meningkatkan kualitas citra, mengurangi kekentalan, serta mempermudah konsumsi dan eliminasi. Kesimpulannya, pemeriksaan OMD yang dilanjutkan dengan BFT efektif dalam menilai anatomi dan motilitas saluran cerna serta berperan penting dalam deteksi dini disfagia pada pasien thyrotoxicosis, dengan kombinasi media kontras yang meningkatkan kualitas diagnostik dan proyeksi AP erect yang memberikan visualisasi fungsional lambung secara optimal.