Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor pendapatan, aksesibilitas, dan motivasi belajar terhadap tingkat putus sekolah anak di Desa Loce, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai. Fenomena ini dianggap sebagai masalah ruang yang kompleks, di mana aspek geografis berinteraksi dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Metode yang digunakan adalah kuantitatif, dengan populasi sebanyak 60 rumah tangga yang memiliki anak putus sekolah, diambil melalui sensus. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier berganda melalui perangkat lunak SPSS versi 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan, variabel ketiga tersebut berpengaruh signifikan terhadap putus sekolah dengan nilai F-hitung 104,756 dan signifikansi 0,000, serta nilai R² sebesar 0,851, yang berarti 85,1% variasi anak putus sekolah dapat dijelaskan oleh faktor-faktor ini. Secara parsial, pendapatan berpengaruh positif dan signifikan (t-hitung 4,236, sig. 0,000), dengan rata-rata pendapatan orang tua Rp 1.182.500 per bulan, sebagian besar bekerja sebagai petani, nelayan, dan buruh harian. Aksesibilitas juga berpengaruh positif dan signifikan (t-hitung 2,765, sig. 0,008), dengan kondisi jalan rusak, jarak dekat hingga agak jauh ke sekolah, serta kondisi transportasi dan topografi yang kurang baik. Motivasi belajar memiliki pengaruh positif dan signifikan (t-hitung 2,354, sig. 0,026), dengan sebagian besar anak memiliki motivasi intrinsik rendah dan belajar karena takut hukuman. Anak putus sekolah paling banyak terjadi pada jenjang SMP, khususnya kelas 7, serta lebih banyak terjadi pada anak laki-laki.