Penelitian ini membahas pengembangan model prioritisasi Outage Maintenance pada sistem tenaga listrik terisolasi dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Sistem kelistrikan terisolasi di Indonesia memiliki keterbatasan cadangan daya dan ketergantungan tinggi terhadap pembangkit lokal, sehingga sangat rentan terhadap gangguan operasional. Pendekatan Time-Based Maintenance (TBM) yang umum digunakan memiliki keterbatasan karena tidak mempertimbangkan kondisi aktual peralatan maupun konsekuensi kegagalan secara komprehensif. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan pendekatan berbasis Multi-Criteria Decision Making (MCDM) yang mengintegrasikan berbagai kriteria penting berdasarkan standar ISO 14224. Metode penelitian dilakukan melalui studi literatur sistematis untuk mengidentifikasi kriteria utama, dilanjutkan dengan penyusunan struktur hierarki AHP yang mencakup kriteria Failure Consequences, Historical Failure & Maintenance Records, serta Resources. Data diperoleh melalui penilaian 10 orang expert dengan metode pairwise comparison. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Failure Consequences menjadi kriteria paling dominan dengan bobot 67,04%, diikuti oleh Historical Failure & Maintenance Records sebesar 21,78% dan Resources sebesar 11,18%. Pada tingkat sub-kriteria, faktor Safety memiliki bobot tertinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa prioritisasi Outage Maintenance lebih dipengaruhi oleh risiko keselamatan dan dampak kegagalan dibandingkan faktor sumber daya. Model yang diusulkan mampu memberikan pendekatan yang lebih adaptif, objektif, dan terstruktur dalam pengambilan keputusan pemeliharaan pada sistem tenaga listrik terisolasi.