This research intends to evaluate how learning frequency and the adequacy of CAD Workshop infrastructure influence the academic performance of eleventh-grade DPIB students at SMKN 7 Surabaya in utilizing Autodesk Revit-based Building Information Modelling (BIM). The investigation was prompted by underwhelming student achievements and the gap between industrial competency standards and vocational pedagogical practices. Adopting a quantitative approach with an ex post facto design, the study involved 57 participants selected via purposive sampling. Data acquisition was conducted through surveys for independent variables and academic records for learning outcomes. Multiple linear regression analysis indicates that learning intensity only accounts for 6% (R2=0,06) of the variance and lacks statistical significance. Conversely, the availability of CAD Workshop facilities contributes 25.3% (R2=0,253) and significantly impacts student success. Jointly, both predictors contribute 34% (R2=0,340), with the remaining 66% attributed to external factors. The results suggest that in technical, practice-heavy subjects like BIM, the quality of physical resources is more pivotal than instructional duration. Consequently, upgrading vocational training facilities is vital for fostering high-level student competencies. ABSTRAK Riset ini bermaksud untuk mengevaluasi dampak frekuensi proses pengajaran serta kelengkapan sarana Workshop CAD terhadap capaian akademis siswa kelas XI DPIB SMKN 7 Surabaya dalam mengoperasikan Building Information Modelling (BIM) Autodesk Revit. Studi ini diinisiasi oleh fenomena belum maksimalnya prestasi belajar siswa serta adanya diskrepansi antara standar kompetensi di dunia kerja dengan realitas edukasi di sekolah vokasi. Metodologi yang digunakan adalah kuantitatif dengan model ex post facto, melibatkan 57 responden yang dipilih melalui purposive sampling. Instrumen pengumpulan data mencakup kuesioner untuk variabel intensitas belajar dan fasilitas bengkel CAD, serta rekam medik nilai sebagai representasi hasil belajar. Melalui analisis regresi linear berganda, ditemukan bahwa intensitas pengajaran hanya menyumbang 6% (R2=0,06) dan tidak memiliki pengaruh signifikan secara statistik. Sebaliknya, variabel fasilitas Workshop CAD memberikan andil sebesar 25,3% (R2=0,253) dengan pengaruh yang signifikan terhadap prestasi siswa. Secara kolektif, kedua faktor tersebut berkontribusi sebesar 34% (R2=0,340), sementara 66% sisanya ditentukan oleh faktor eksternal lainnya. Temuan ini menegaskan bahwa dalam instruksi berbasis keahlian praktis seperti BIM, keberadaan sarana pendukung jauh lebih krusial daripada durasi pembelajaran. Dengan demikian, modernisasi fasilitas praktik harus menjadi fokus utama guna menjamin kecakapan lulusan pendidikan kejuruan.