Studi ini menginvestigasi dampak kualitas pengelolaan fiskal daerah terhadap ketidakstabilan pertumbuhan ekonomi pada 35 kabupaten/kota yang berada di Provinsi Jawa Tengah selama kurun 2019–2023. Tiga dimensi tata kelola fiskal dianalisis secara simultan, yaitu rasio ketergantungan fiskal, efisiensi belanja daerah, dan otonomi fiskal. Volatilitas pertumbuhan ekonomi direpresentasikan melalui perhitungan standar deviasi atas laju pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) riil pada harga konstan. Proses estimasi dengan mengaplikasikan First Difference Generalized Method of Moments (FD-GMM) dalam kerangka dynamic panel data. Pemilihan metode ini didasarkan pada kemampuannya dalam mereduksi bias yang timbul akibat endogenitas, sekaligus menangkap hubungan dinamis antarvariabel lintas waktu secara lebih akurat. Riset berikut menjelaskan (1) rasio ketergantungan fiskal memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap volatilitas pertumbuhan ekonomi, menunjukkan semakin tinggi ketergantungan daerah terhadap dana transfer pusat, semakin besar tingkat fluktuasi pertumbuhan ekonomi; (2) efisiensi belanja daerah berpengaruh signifikan, menandakan pentingnya pengelolaan anggaran dalam menjaga stabilitas ekonomi; dan (3) otonomi fiskal menjadi variabel yang paling dominan. Kelayakan model telah diverifikasi melalui Hansen Test serta diperkuat oleh hasil Arellano-Bond Test yang menunjukkan terpenuhinya asumsi model dinamis. Selain itu, uji ketahanan model (robustness check) menggunakan pendekatan Fixed Effect Model serta Pooled Least Square memperlihatkan konsistensi arah koefisien, sehingga memperkuat reliabilitas temuan penelitian. Temuan ini memberikan implikasi bahwa penguatan kemandirian fiskal daerah merupakan faktor strategis dalam menekan volatilitas pertumbuhan ekonomi. Optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta peningkatan efisiensi dalam pengelolaan belanja publik perlu diposisikan sebagai instrumen utama dalam menjaga stabilitas ekonomi regional Jawa Tengah.