Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Dari Krisis Makna ke Transformasi Sosial: Rekonstruksi Teologi sebagai Sistem Meaning-Making dalam Perspektif Logoterapi Nabila Nailul Faroh; Fabian Faqih Maulana; Susi Rike; Ali Hasan Siswanto
Indonesian Journal of Multidisciplinary Scientific Studies Vol 4 No 3 (2026): Edisi Mei 2026
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STAI Raudhatul Akmal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33151/ijomss.v4i3.906

Abstract

Artikel ini berangkat dari krisis fundamental dalam diskursus teologi kontemporer yang kehilangan daya transformasionalnya dalam merespons perubahan sosial dan krisis eksistensial manusia modern. Teologi cenderung direduksi menjadi sistem normatif-dogmatis yang terlepas dari pengalaman hidup, sehingga gagal menjawab problem utama manusia, yaitu krisis makna (existential vacuum). Kesenjangan penelitian terletak pada minimnya integrasi antara teologi dan pendekatan psikologi eksistensial, khususnya dalam memahami teologi sebagai sumber meaning-making yang berimplikasi pada transformasi sosial. Artikel ini menggunakan pendekatan teoritis psikologi humanistik–eksistensial melalui logoterapi Viktor Frankl, yang menekankan kehendak untuk makna (will to meaning) sebagai motivasi dasar manusia. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif-kritis dengan pendekatan interdisipliner, melalui analisis hermeneutik dan konseptual terhadap literatur teologi dan psikologi eksistensial. Argumen utama artikel ini adalah bahwa krisis teologi pada hakikatnya merupakan krisis makna, sehingga rekonstruksi teologi sebagai sistem meaning-making menjadi prasyarat bagi terciptanya transformasi sosial yang autentik. Teologi perlu direposisi dari sekadar sistem kepercayaan menjadi sumber orientasi eksistensial yang mampu membentuk kesadaran, tindakan, dan struktur sosial. Kontribusi ilmiah artikel ini terletak pada sintesis konseptual antara teologi dan logoterapi, pengembangan paradigma teologi berbasis makna, serta perumusan model masyarakat teologis yang berakar pada kesadaran eksistensial. Dengan demikian, teologi tidak hanya berfungsi sebagai wacana normatif, tetapi sebagai kekuatan transformatif dalam kehidupan sosial.