Kecelakaan kerja melibatkan kontraktor yang mengakibatkan dampak signifikan terhadap keselamatan pekerja, produktivitas, dan reputasi organisasi. Contractor Safety Management System (CSMS) merupakan kerangka pengelolaan risiko keselamatan kontraktor yang komprehensif, namun implementasinya sering menghadapi hambatan khususnya pada fase operasional (Work in Progress) di industri risiko tinggi. Tinjauan sistematis ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor dominan yang menentukan keberhasilan atau kegagalan implementasi CSMS pada fase operasional di industri risiko tinggi, serta mensintesis temuan lintas industri (konstruksi, migas, manufaktur) dalam konteks Indonesia maupun internasional. Penelitian ini menggunakan protokol Systematic Literature Review (SLR) sesuai pedoman PRISMA 2020. Pencarian dilakukan pada database Google Scholar, Garuda, Dimensions, DOAJ, dan ScienceDirect dengan periode publikasi 2019-2025. Kajian ini mengidentifikasi lima faktor kritis keberhasilan CSMS: (1) kepemimpinan dan komitmen manajemen; (2) program komunikasi dan promosi; (3) program evaluasi risiko; (4) program manajemen kontraktor dan supplier; (5) program pelatihan dan kompetensi. Hambatan utama pada fase operasional mencakup gap antara dokumen administratif dan implementasi lapangan, rendahnya kompetensi pengawas, serta alokasi budget K3 yang tidak memadai. Implementasi CSMS yang berhasil memerlukan pendekatan holistik yang mengintegrasikan komitmen manajemen, pengawasan operasional berkelanjutan, pengembangan kompetensi, dan alokasi sumber daya yang tepat. Diperlukan penelitian lanjutan mengenai digitalisasi CSMS dan model alokasi budget untuk meningkatkan efektivitas implementasi.