Ni Made Ani Arsita
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Suaraku Bahasaku: Dinamika Kesulitan Berbahasa Bali dalam Dunia Siswa SMA Negeri 2 Mengwi Ni Made Ani Arsita; I Nyoman Temon Astawa
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 2 (2026): On Proses
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/khw7f008

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika kesulitan berbicara Bahasa Bali pada siswa kelas XI di SMA Negeri 2 Mengwi, Bali. Bahasa Bali sebagai bagian penting dari identitas budaya lokal menghadapi tantangan dalam penggunaannya di kalangan generasi muda, khususnya dalam konteks formal yang menuntut penguasaan tingkat tutur (sor singgih). Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan teknik pengumpulan data berupa angket, wawancara, dan nilai rapor Bahasa Bali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berbicara siswa berada pada kategori sedang, dengan kesulitan utama terletak pada penggunaan tingkat tutur (sor singgih) sebesar 75%, diikuti oleh kesulitan dalam tata bahasa (46,9%) dan keterbatasan kosakata (28,1%). Selain itu, ditemukan adanya kesenjangan antara kemampuan akademik dan kemampuan berbicara, di mana nilai rapor siswa tergolong tinggi, namun belum sepenuhnya mencerminkan keterampilan komunikasi lisan secara optimal. Faktor internal seperti rendahnya kepercayaan diri serta faktor eksternal seperti lingkungan keluarga, sekolah, dan kurangnya praktik berbahasa turut mempengaruhi kondisi tersebut. Penelitian ini berkontribusi dalam memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai kesulitan berbicara Bahasa Bali pada siswa dengan menunjukkan bahwa hambatan tersebut tidak hanya disebabkan oleh rendahnya penguasaan bahasa, tetapi merupakan hasil interaksi berbagai faktor. Faktor linguistik meliputi keterbatasan kosakata, kesulitan menyusun struktur kalimat, pengucapan, dan rendahnya penguasaan tata bahasa. Faktor sosiolinguistik terlihat pada kesulitan siswa dalam menyesuaikan penggunaan tingkat tutur seperti sor singgih (alus, madia, kasar) sesuai lawan bicara, situasi formal, usia, dan status sosial. Faktor psikologis mencakup rasa kurang percaya diri, gugup, malu, serta takut melakukan kesalahan saat berbicara. Sementara itu, faktor lingkungan berkaitan dengan minimnya penggunaan Bahasa Bali dalam keluarga, pergaulan sebaya, dan kurangnya kesempatan praktik di sekolah. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan terpadu yang menganalisis secara bersamaan aspek linguistik, sosiolinguistik, psikologis, dan lingkungan dalam pembelajaran Bahasa Bali, yang selama ini umumnya dikaji secara terpisah.