Jhonatan, Tedy
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Tradisi Mamukek sebagai Ketahanan Pangan Biru Nelayan Artisanal dengan Pendekatan Common Property di Nagari Sungai Pinang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat Athallah, Muhammad Alif; Aziz, Basyarul; Anggara, Abbhie Zacky; Jhonatan, Tedy; Gusneli, Gusneli; Rahmadhani, Esa
Aceh Anthropological Journal Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v10i1.26149

Abstract

The mamukek tradition is a collective fishing practice preserved in Nagari Sungai Pinang, Pesisir Selatan Regency, West Sumatra, serving as a vital component of the "blue food" system for artisanal fishers. Beyond a mere fishing technique, this practice functions as a social institution that governs access, catch distribution, and labor solidarity within the fishing community. This study aims to analyze how mamukek operates as a blue food security mechanism within a common property regime framework based on local customary (adat) rules. Employing a descriptive qualitative approach, the research utilized participant observation, in-depth interviews, and documentation. Data validity was ensured through source and data triangulation, with analysis conducted through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that mamukek is executed through organized collective labor, with clear roles divided between the net owners (induk pukek) and the crew (anak pukek). The catch distribution system is relatively equitable and grounded in customary agreements, acting as a food distribution mechanism that guarantees fish protein access for fishing households, even during periods of uncertain yields. Furthermore, mamukek is governed by a set of traditional norms—such as the regulation of fishing days (hari iduik and hari mati), prohibitions on specific days, and social sanctions—which effectively prevent conflict and ensure the sustainability of marine resources. Despite facing environmental challenges like extreme weather, jellyfish seasons, and pressures from coastal tourism, the fishing community demonstrates resilience through collective strategies and consensus-based (musyawarah) decision-making. Abstrak:  Tradisi mamukek merupakan praktik penangkapan ikan secara kolektif yang masih lestari di Nagari Sungai Pinang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, dan menjadi bagian penting dari sistem pangan biru (blue food) nelayan artisanal. Praktik ini tidak hanya berfungsi sebagai teknik penangkapan ikan, tetapi juga sebagai institusi sosial yang mengatur akses, pembagian hasil, dan solidaritas kerja dalam komunitas nelayan. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana mamukek berfungsi sebagai mekanisme ketahanan pangan biru dalam kerangka common property regime berbasis aturan adat lokal. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan data, sedangkan analisis dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mamukek dijalankan melalui kerja kolektif kelompok nelayan yang terorganisir, dengan pembagian peran antara pemilik jaring (induk pukek) dan tenaga kerja (anak pukek). Sistem pembagian hasil tangkapan dilakukan secara relatif merata dan berbasis kesepakatan adat, sehingga berfungsi sebagai mekanisme distribusi pangan yang menjamin akses protein ikan bagi rumah tangga nelayan, bahkan dalam kondisi hasil tangkapan yang tidak menentu. Selain itu, praktik mamukek diatur oleh seperangkat norma adat, seperti pengaturan hari melaut (hari iduik dan hari mati), larangan melaut pada hari tertentu, serta sanksi sosial bagi pelanggaran, yang secara efektif mencegah konflik dan menjaga keberlanjutan sumber daya laut. Meskipun menghadapi tantangan lingkungan seperti cuaca ekstrem, musim ubur-ubur, dan tekanan aktivitas pariwisata pesisir, komunitas nelayan menunjukkan kemampuan adaptasi melalui strategi kolektif dan pengambilan keputusan berbasis musyawarah.