Kemiskinan tetap menjadi tantangan kompleks dalam pembangunan ekonomi di Provinsi Jawa Tengah. Kondisi ini sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar tenaga kerja, terutama melalui Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Namun, karena hubungan antarvariabel ini sering kali tidak konsisten di berbagai daerah, penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh TPT dan TPAK terhadap angka kemiskinan di kabupaten/kota se-Jawa Tengah periode 2023–2025. Menggunakan metode kuantitatif regresi linear berganda dengan data panel dari BPS, penelitian ini telah melewati serangkaian uji asumsi klasik, termasuk normalitas (sig. 0,228), multikolinearitas (VIF 1,411), heteroskedastisitas, serta koreksi autokorelasi Cochrane-Orcutt (DW 1,715) untuk memastikan validitas model. Hasil uji parsial menunjukkan bahwa TPT berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan (β = 0,598; sig. 0,01), yang menegaskan bahwa peningkatan pengangguran memperburuk kemiskinan secara struktural. Menariknya, TPAK juga menunjukkan pengaruh positif yang signifikan (β = 0,190; sig. 0,049). Hal ini mengindikasikan adanya fenomena pekerja miskin (working poor), di mana tingginya partisipasi kerja tidak serta-merta mengurangi kemiskinan karena pekerja terjebak di sektor informal yang rendah produktivitas. Secara simultan, kedua variabel berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan (sig. 0,03), meski nilai Adjusted R-squared sebesar 0,067 menunjukkan bahwa 93,3% faktor kemiskinan lainnya dipengaruhi oleh variabel di luar model seperti kualitas pendidikan dan upah minimum. Temuan ini menyimpulkan bahwa pengentasan kemiskinan di Jawa Tengah memerlukan strategi menyeluruh, mulai dari penciptaan lapangan kerja formal yang berkualitas hingga penguatan perlindungan sosial dan pelatihan vokasional.