Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Konsep Manajemen Pendidikan Islam Dalam Hadist di Era Pendidikan Kontemporer Winarni Winarni
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 11 No. 2 (2026): Mei
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v11i2.3434

Abstract

Pendidikan Islam memerlukan pengelolaan yang efektif agar mampu menjawab tantangan perkembangan zaman, khususnya di era kontemporer yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan globalisasi. Hadist sebagai sumber ajaran Islam memiliki kontribusi penting dalam memberikan landasan nilai bagi manajemen pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep manajemen pendidikan Islam dalam hadist serta relevansinya dalam konteks pendidikan kontemporer. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research), yaitu menganalisis hadist-hadist yang berkaitan dengan manajemen pendidikan dan mengaitkannya dengan kondisi pendidikan modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip-prinsip manajemen pendidikan dalam hadist meliputi perencanaan strategis, pengorganisasian sumber daya, kepemimpinan transformasional, pengawasan yang berkualitas, serta evaluasi berkesinambungan. Prinsip-prinsip tersebut memiliki relevansi yang kuat dalam menjawab tantangan pendidikan kontemporer, terutama dalam meningkatkan efektivitas dan kualitas pengelolaan pendidikan Islam. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam hadist dapat diimplementasikan secara kontekstual dalam manajemen pendidikan Islam sebagai solusi dalam menghadapi dinamika pendidikan di era digital dan globalisasi.
ANALISIS METODE BURHANI, BAYANI, DAN IRFANI DALAM PERNIKAHAN DINI YANG TIDAK TERCATAT DI PENGADILAN Winarni Winarni; Ghazali; Tuti Harwati
Al-Usroh : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol. 3 No. 02 (2025): Desember
Publisher : Islamic Family Law, STAI Sangatta Kutai Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55799/alusroh.v3i02.763

Abstract

Indonesian marriage law ideally stipulates that marriage should be entered into by men aged 21 and women aged 19, reflecting the assumption that individuals at this stage have reached sufficient maturity to assume marital responsibilities and roles. However, in practice, marriages involving minors—many of whom are still in school—remain prevalent. Early marriage has increasingly become a normalized phenomenon within society and has even emerged as a trend among younger generations. This study employs field research with an empirical approach to examine the factors influencing early marriage and its impacts. Primary data were obtained through direct interviews with individuals who entered into early marriage, while secondary data were collected from academic articles and relevant literature, including analyses based on the burhani, irfani, and bayani methodological perspectives. The findings identify several key factors contributing to early marriage, including economic pressure, low educational attainment, family and parental influence, individual motivation, exposure to technology and social media, as well as customary and cultural norms. The study further reveals that early marriage generates significant negative impacts, particularly on adolescents and children. Married adolescents, especially those who become pregnant at a young age, face heightened health risks such as anemia, which contribute to increased maternal and infant mortality rates. Early marriage also limits access to education, restricts employment opportunities, accelerates the loss of adolescence, and ultimately contributes to higher unemployment rates. Children born from early marriages are more likely to experience low birth weight, premature birth, and increased health vulnerabilities. Based on the perspectives of the interviewed participants, early marriage is considered better avoided due to its extensive negative consequences, despite the presence of limited perceived benefits.