Suparji Suparji
Department of Midwifery, Poltekkes Kemenkes Surabaya, Surabaya, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Determinants Affecting Menopause at Kamboja Posyandu, Tambakmas Village, Indonesia Tigor Maylani; Suparji Suparji; Astin Nur Hanifah; Agung Suharto
International Journal of Advanced Health Science and Technology Vol. 5 No. 4 (2025): August
Publisher : Forum Ilmiah Teknologi dan Ilmu Kesehatan (FORITIKES)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35882/ijahst.v5i4.511

Abstract

Background: Menopause generally occurs in women aged 45–55 years. Various factors influence the age of menopause, including the possibility of early onset (premature menopause). Menopause has a significant impact on women's quality of life, ranging from physical changes and psychological disturbances to an increased risk of degenerative diseases such as osteoporosis and heart disease. This study aims to analyze the determinants influencing menopause among women aged 40–60 years at the Kamboja Posyandu in Tambakmas Village. Methods: This is a quantitative study using an analytic survey approach with a cross-sectional design. The population consisted of 200 women aged 40–60 years at the Kamboja Posyandu, from which a sample of 134 women was selected using proportional simple random sampling. Independent variables included age, genetics, lifestyle, general health, medical interventions, and environmental exposure. The dependent variable was menopause status. Data were collected using an interview questionnaire and analyzed using multinomial logistic regression with a 95% confidence level and a significance threshold of α = 0.05. Results: The findings indicate that increasing age, a family history of early menopause, unhealthy lifestyle, medical interventions, and environmental exposure significantly increase the likelihood of experiencing menopause. Analysis showed that five out of the six independent variables—age, genetics, lifestyle, medical interventions, and environment—had a statistically significant influence on menopause (p < 0.05). General health did not show a significant association with menopause (p = 0.840). Conclusion: The study concludes that the occurrence of menopause among women aged 40–60 years in the study area is influenced by a combination of age, genetic factors, lifestyle, medical interventions, and environmental conditions. These findings can serve as a basis for designing more targeted community-based intervention strategies, particularly in the form of menopause health education for healthcare workers and policymakers. The study is expected to serve as a reference to enhance women’s awareness and preparedness in facing the menopausal transition in a healthy and informed manner.
Pemberdayaan Masyarakat melalui Edukasi Gizi, Pelatihan, Praktik, dan Pendampingan untuk Meningkatkan Kapasitas Kader Kesehatan dan Guru PAUD dalam Perintisan Desa Bebas Stunting di Desa Sukowidi, Kabupaten Magetan, Jawa Timur Suparji Suparji; Heru Santoso Wahito Nugroho; Sunarto Sunarto; Teta Puji Rahayu; Alfi Rusdianti
Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia Vol 6 No 4 (2026): JAMSI - Juli 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jamsi.3083

Abstract

Stunting masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang memerlukan upaya pencegahan melalui pemberdayaan masyarakat dan penguatan kapasitas sumber daya lokal. Desa Sukowidi, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan masih memiliki balita stunting. Dari 195 balita yang ada di Desa Sukowidi, tercatat 16(8,2%) balita mengalami stunting, sehingga diperlukan intervensi melalui edukasi gizi dan pemberdayaan masyarakat untuk mencegah peningkatan kasus. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader kesehatan serta guru PAUD melalui edukasi gizi sebagai langkah perintisan Desa Bebas Stunting. Metode yang digunakan adalah pendekatan pemberdayaan masyarakat melalui edukasi, pelatihan, demonstrasi, praktik, dan pendampingan. Kegiatan dilaksanakan pada 18–19 Mei 2026 dengan melibatkan 30 peserta yang terdiri atas kader kesehatan, guru PAUD, TP PKK, dan unsur pemerintahan desa. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test, post-test, serta penilaian keterampilan praktik. Penilaian keterampilan menggunakan lembar observasi dengan kategori: sangat baik (86–100), baik (76–85), cukup (60–75), dan kurang (<60). Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan nilai rata-rata pengetahuan peserta dari 78,67 menjadi 91,67 setelah pelatihan. Nilai rata-rata keterampilan praktik pengukuran antropometri sebesar 80,00, penyusunan menu gizi balita 80,77, dan pelaksanaan edukasi kesehatan 86,20. Selain itu, terbentuk Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Desa beserta program kerja dan rencana aksi sebagai bentuk keberlanjutan program. Kegiatan ini efektif meningkatkan kapasitas kader kesehatan dan guru PAUD serta memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mendukung terwujudnya Desa Sukowidi sebagai Desa Bebas Stunting.