Ahmad Turmuzi
Universitas Nahdlatul Wathan Mataram, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Culture and Regional Language Based Tourism Economy: An Interdisciplinary Literature Review Ahmad Turmuzi; Sofyan Hariono
Indonesian Journal of Education and Science Vol. 2 No. 1 (2026): January
Publisher : Formad English Foundation NTB Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67028/ijes.v2i1.163

Abstract

This study is motivated by the limited systematic research on the integration of culture and regional language as core economic resources in tourism, despite their significant influence on destination competitiveness, sustainability, and cultural preservation. It aims to analyze the role of culture and regional language as symbolic and economic capital, identify dominant integration patterns in tourism development, and examine challenges and future directions of culture- and language-based tourism economies. The research employs a qualitative interdisciplinary literature review design, drawing on peer-reviewed journal articles and scholarly books published between 2015 and 2025, selected through purposive sampling. Data were collected through systematic document analysis and examined using thematic and comparative analysis to synthesize perspectives from tourism studies, cultural studies, linguistics, and the creative economy. Findings indicate that culture and regional language function as strategic symbolic assets that shape destination identity, strengthen perceptions of authenticity, and generate economic value when effectively mobilized within tourism systems, supporting cultural capital theory. Community-based tourism, participatory cultural governance, and linguistic landscape strategies emerge as the most effective integration patterns for achieving economic sustainability while safeguarding cultural integrity. However, persistent challenges—including over-commodification, cultural homogenization, unequal benefit distribution, and limited institutional capacity—remain significant barriers. The study concludes that integrating culture and regional language into tourism economies requires inclusive governance, ethical commodification, and innovation through digital storytelling and creative industries. The implications advance interdisciplinary tourism and cultural economy scholarship while informing policymakers and practitioners on sustainable, culture-based tourism strategies. Future research should employ empirical, comparative, and mixed-methods approaches across diverse regional contexts.
Majas Dalam Syair Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru Karya TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (Suatu Kajian Stilistika) Ahmad Turmuzi; Kholid; Zul Pahmi
Journal of Scientific Studies and Multidisciplinary Research Vol. 1 No. 2 (2024): November
Publisher : Formad English Foundation NTB Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67028/jssmr.v1i2.46

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan majas dalam Syair Wasiat Renungan Masa karya TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid melalui pendekatan stilistika. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik analisis isi, yang bertujuan untuk mengklasifikasikan majas-majas yang terkandung dalam teks syair berdasarkan jenisnya. Data diperoleh melalui studi kepustakaan dan dokumentasi terhadap naskah syair. Hasil penelitian menunjukkan adanya empat jenis majas yang dominan, yaitu penegasan, perbandingan, pertentangan, dan sindiran. Majas penegasan, seperti klimaks dan antiklimaks, digunakan untuk memperkuat pesan moral dan spiritual, mencerminkan esensi religius yang mendalam. Majas perbandingan, seperti metafora dan personifikasi, menciptakan citra imajinatif yang memikat dan mendukung daya estetika teks. Majas pertentangan, seperti antitesis dan paradoks, menggarisbawahi kontradiksi nilai yang dihadapi masyarakat, sedangkan majas sindiran, seperti ironi dan sarkasme, menyampaikan kritik sosial yang tajam namun tersirat. Temuan ini mengungkap bahwa Syair Wasiat Renungan Masa bukan sekadar karya sastra, tetapi juga media penyampaian nilai-nilai persatuan, keimanan, dan kritik sosial yang relevan. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian stilistika sastra Islam, khususnya dalam memahami peran teks sastra sebagai sarana edukasi dan transformasi nilai budaya. Selain itu, hasil penelitian ini juga menegaskan pentingnya melestarikan karya sastra berbasis budaya dan agama dalam menghadapi tantangan era modern. Dengan demikian, syair ini menjadi cerminan identitas kultural yang bernilai universal.