Kholid
Universitas Nahdlatul Wathan Mataram, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Majas Dalam Syair Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru Karya TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (Suatu Kajian Stilistika) Ahmad Turmuzi; Kholid; Zul Pahmi
Journal of Scientific Studies and Multidisciplinary Research Vol. 1 No. 2 (2024): November
Publisher : Formad English Foundation NTB Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67028/jssmr.v1i2.46

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan majas dalam Syair Wasiat Renungan Masa karya TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid melalui pendekatan stilistika. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik analisis isi, yang bertujuan untuk mengklasifikasikan majas-majas yang terkandung dalam teks syair berdasarkan jenisnya. Data diperoleh melalui studi kepustakaan dan dokumentasi terhadap naskah syair. Hasil penelitian menunjukkan adanya empat jenis majas yang dominan, yaitu penegasan, perbandingan, pertentangan, dan sindiran. Majas penegasan, seperti klimaks dan antiklimaks, digunakan untuk memperkuat pesan moral dan spiritual, mencerminkan esensi religius yang mendalam. Majas perbandingan, seperti metafora dan personifikasi, menciptakan citra imajinatif yang memikat dan mendukung daya estetika teks. Majas pertentangan, seperti antitesis dan paradoks, menggarisbawahi kontradiksi nilai yang dihadapi masyarakat, sedangkan majas sindiran, seperti ironi dan sarkasme, menyampaikan kritik sosial yang tajam namun tersirat. Temuan ini mengungkap bahwa Syair Wasiat Renungan Masa bukan sekadar karya sastra, tetapi juga media penyampaian nilai-nilai persatuan, keimanan, dan kritik sosial yang relevan. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian stilistika sastra Islam, khususnya dalam memahami peran teks sastra sebagai sarana edukasi dan transformasi nilai budaya. Selain itu, hasil penelitian ini juga menegaskan pentingnya melestarikan karya sastra berbasis budaya dan agama dalam menghadapi tantangan era modern. Dengan demikian, syair ini menjadi cerminan identitas kultural yang bernilai universal.