Muhammad Ikbal
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

REPRESENTASI KEKUASAAN DAN PERLAWANAN DALAM NOVEL GRANADA KARYA RADWA ASHOUR: KAJIAN HEGEMONI ANTONIO GRAMSCI Muhammad Ikbal; Maman Abdul Djaliel; Siti Muslikah
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 8 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v8i2.1335

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap representasi kekuasaan dan perlawanan dalam Granada karya Radwa Ashour melalui perspektif hegemoni Antonio Gramsci, khususnya untuk memahami bagaimana dominasi Castile dibangun dan bagaimana masyarakat Muslim Granada meresponsnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik analisis isi terhadap teks novel, membaca unit-unit naratif yang memuat praktik dominasi, penerimaan, dan resistensi, kemudian menginterpretasikannya berdasarkan konsep hegemoni konsensual, hegemoni koersif, dan kontra-hegemoni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuasaan Castile direpresentasikan melalui dua mekanisme utama: pertama, hegemoni konsensual yang tercermin pada sikap pasrah tokoh-tokoh yang menerima kekalahan sebagai takdir atau konsekuensi logis dari ketimpangan kekuatan; kedua, hegemoni koersif yang tampak melalui penyerangan, penyitaan, perbudakan, dan intimidasi yang menciptakan rasa takut dan ketundukan. Di sisi lain, perlawanan dalam novel terwujud melalui tindakan heroik, keberanian simbolik, penolakan diskursif, dan gestur kecil yang mempertahankan martabat meskipun dominasi terus menekan. Representasi ini menegaskan bahwa Granada tidak hanya menggambarkan kehancuran suatu peradaban, tetapi juga menampilkan keberlanjutan spirit perlawanan yang tumbuh dari berbagai bentuk kesadaran, baik individu maupun kolektif. Novel ini menampilkan relasi kuasa yang dinamis, menunjukkan bahwa di balik dominasi yang tampak kokoh selalu hadir ruang resistensi yang menjaga identitas dan martabat komunitas tertindas.