Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Integrasi Sosial Masyarakat Islam dan Kristen di Nagari Mahakarya Kecamatan Luhak Nan Duo Lila Wita; Vivi Yulia Nora
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8196

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk integrasi sosial antara masyarakat Islam dan Kristen serta faktor-faktor yang memengaruhi hubungan antarumat beragama di Nagari Mahakarya, Kecamatan Luhak Nan Duo, Kabupaten Pasaman Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi dengan melibatkan tokoh agama Islam dan Kristen, tokoh adat, aparat nagari, serta masyarakat setempat. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teori sistem sosial Talcott Parsons melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, dengan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi sosial antara masyarakat Islam dan Kristen terwujud melalui kerja sama dalam kegiatan gotong royong, partisipasi bersama dalam kegiatan adat dan kemasyarakatan, serta sikap toleransi dan saling menghormati antarumat beragama. Integrasi sosial ini didukung oleh komunikasi yang efektif antarwarga, peran aktif tokoh agama dan tokoh adat, serta kuatnya nilai adat dan tradisi lokal sebagai mekanisme perekat sosial. Adapun faktor penghambat integrasi sosial bersifat situasional dan lebih banyak muncul dalam ranah privat, khususnya terkait pernikahan beda agama yang didahului oleh perpindahan agama. Meskipun demikian, perbedaan tersebut tidak berkembang menjadi konflik terbuka karena dapat dikelola melalui musyawarah, dialog sosial, dan kesepakatan nilai bersama. Penelitian ini menegaskan pentingnya kearifan lokal dan norma sosial dalam menjaga dan memperkuat integrasi sosial masyarakat multireligius di wilayah pedesaan.
Disfungsi Keluarga dan Dampaknya terhadap Anak pada Keluarga Broken Home di Nagari Tanjung Pondok Kecamatan Basa Ampek Balai Tapan Meki Safrianto; Vivi Yulia Nora; Abdul Gaffar; Noor Fadlli Marh
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8361

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk disfungsi keluarga serta dampaknya terhadap anak pada keluarga broken home di Nagari Tanjung Pondok, Kecamatan Basa Ampek Balai Tapan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus untuk memahami fenomena sosial secara mendalam. Informan penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling yang terdiri dari keluarga broken home, tokoh masyarakat, dan tokoh agama. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga bentuk utama disfungsi keluarga, yaitu disfungsi peran, disfungsi afeksi, dan disfungsi ekonomi. Disfungsi peran ditandai dengan ketidakseimbangan tanggung jawab dalam keluarga, di mana anak turut mengambil peran orang tua. Disfungsi afeksi terlihat dari kurangnya perhatian, komunikasi, dan kehangatan emosional antaranggota keluarga. Sementara itu, disfungsi ekonomi ditandai dengan ketidakmampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan dasar. Faktor penyebab disfungsi keluarga meliputi kurangnya kesiapan dalam membina rumah tangga, kesibukan orang tua, perselingkuhan, dan perceraian. Dampak disfungsi keluarga terhadap anak meliputi aspek sosial, ekonomi, dan keagamaan. Anak cenderung mengalami kesulitan berinteraksi, penurunan motivasi belajar, keterbatasan pemenuhan kebutuhan dasar, serta menurunnya praktik keagamaan akibat kurangnya bimbingan orang tua. Penelitian ini menegaskan bahwa disfungsi keluarga merupakan masalah sosial yang berdampak luas dan memerlukan perhatian berbagai pihak.