Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Gambaran Waktu Tunggu sebagai Indikator Mutu Pelayanan Pasien Rawat Jalan di Rumah Sakit Tahun 2026 Seftika Sari; Silvina Harum Mawarni; Deswita Sandra Tsalsabila Ananto; Enjely Zahra Aessa; Wirahma Indah Pratiwi; Adinda Rusyamsi; Rizka Aulia Nissa; Nur Hafizah Zakira; Tiara Salsabila; Melinda Berliana Pitmi; Chrisna Rahayu
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8279

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis waktu tunggu pelayanan resep obat racikan dan non racikan pada Instalasi Farmasi Rawat Jalan berdasarkan Standar Pelayanan Minimal yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Waktu tunggu pelayanan resep merupakan salah satu indikator penting dalam menilai mutu pelayanan kefarmasian karena berhubungan langsung dengan efektivitas pelayanan dan tingkat kepuasan pasien. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan teknik simple random sampling terhadap pasien rawat jalan pada hari pelayanan yang berbeda di Instalasi Farmasi Rumah Sakit. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung dengan mengukur waktu sejak resep diterima oleh petugas farmasi hingga obat diserahkan kepada pasien disertai pemberian informasi obat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar waktu tunggu pelayanan resep, baik obat non racikan maupun racikan, masih berada pada kategori tidak sesuai standar pelayanan minimal. Persentase kesesuaian tertinggi untuk resep non racikan ditemukan pada IFRS III, sedangkan pada resep racikan terdapat pada IFRS I. IFRS IV menjadi kelompok dengan rata-rata waktu tunggu tertinggi dibanding kelompok lainnya. Peningkatan waktu tunggu umumnya terjadi pada jam pelayanan padat akibat tingginya jumlah pasien dan beban kerja tenaga kefarmasian. Faktor-faktor yang memengaruhi keterlambatan pelayanan meliputi keterbatasan jumlah tenaga kefarmasian, kompleksitas proses peracikan obat, jumlah item obat dalam resep, serta alur pelayanan yang belum optimal. Secara keseluruhan, mutu pelayanan kefarmasian berdasarkan indikator waktu tunggu masih perlu ditingkatkan melalui optimalisasi sistem pelayanan dan sumber daya kefarmasian agar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Program GLOW (Generation Learn on Wellness) untuk Meningkatkan Pengetahuan Remaja tentang Skincare Herbal Aulia Fitri; Syilfia Hasti; Noval Herfindo; Riyanto Riyanto; Alham Arrahman; Violla Febriani; Weri Apriella; Winda Mailinda; Wirahma Indah Pratiwi; Wulan Desmawati; Wulan Octavia P. Muchani; Yabda Alib Oktaria; Zaviqa Varhanna
Jurnal Garuda Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4 No 1 (2026)
Publisher : Ali Institute of Research and Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55537/gabdimas.v4i1.1386

Abstract

Remaja khususnya kalangan SMA/SMK sederajat, menjadi salah satu segmen konsumen yang menggunakan produk skincare. Penting untuk diingat bahwa masa remaja adalah periode kritis di mana kulit sedang mengalami perubahan hormonal. Di usia remaja, mereka mulai mengeksplorasi berbagai produk kecantikan untuk mendukung penampilan. Sayangnya, pemahaman mereka mengenai keamanan produk kosmetik masih terbatas. Studi menunjukkan bahwa kurangnya literasi tentang komposisi bahan aktif, cara penggunaan yang benar, dan efek samping produk skincare dan kosmetik dapat meningkatkan risiko masalah kulit, seperti alergi, iritasi, dan bahkan kerusakan jangka Panjang. pada kegiatan ini terdapat 52 peserta. Sampel diambil melalui pengisian kuesioner yaitu pre test dan post test, kemudian sampel direkapitulasi selanjutnya dianalisis. Pada Post test terjadi peningkatan pemahaman terkait materi yang disampaikan jika dibandingkan dengan pre test yang diberikan sebelum pemateri memaparkan materi. Hal ini berdasarkan pada nilai pengetahuan/sikap/praktik saat post test mendapat persentase sebesar 92,31%.