Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Konsep Analisis Wacana Teun A. van Dijk dan Norman Fairclough: Relevansinya terhadap Pembentukan Berpikir Kritis Siswa pada Lirik Lagu "Evaluasi" Karya Hindia Deshy Putri Anggraini; Ani Rakhmawati
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8723

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan literasi kritis siswa dalam menganalisis teks nonformal serta kejenuhan terhadap media pembelajaran bahasa yang masih bersifat konvensional. Dalam konteks Kurikulum Merdeka, diperlukan inovasi pembelajaran yang dekat dengan pengalaman emosional siswa, salah satunya melalui pemanfaatan lirik lagu populer sebagai objek kajian linguistik. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi representasi kognisi sosial dan praktik sosiokultural dalam lirik lagu “Evaluasi” karya Hindia serta relevansinya terhadap pembentukan kemampuan berpikir kritis siswa. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) yang mengintegrasikan model Teun A. van Dijk dan Norman Fairclough. Data dikumpulkan melalui teknik simak dan catat, kemudian dianalisis pada level mikro, kognisi sosial, dan konteks sosiokultural. Hasil penelitian menunjukkan adanya sepuluh data utama yang merepresentasikan kritik terhadap standar sosial toksik, normalisasi kegagalan, serta penguatan otonomi individu. Diksi seperti “mengevaluasi ragamu” dan “biasa saja” menggambarkan fenomena hustle culture dan budaya kompetisi penderitaan di media sosial. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lirik lagu populer dapat mengubah posisi siswa dari sekadar penikmat seni menjadi pembaca kritis yang mampu mengungkap pesan ideologis dalam teks. Selain itu, penggunaan teks populer dalam pembelajaran Bahasa Indonesia terbukti mampu mendorong siswa menjadi lebih reflektif, empatik, dan mandiri dalam memahami fenomena sosial. Dengan demikian, integrasi budaya populer dalam pembelajaran menjadi langkah penting untuk menumbuhkan nalar kritis siswa di era modern.