Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Resiliensi Anak Disabilitas Korban Bullying: Tinjauan Psikologi Positif dan Perspektif Indigenous dalam Mengatasi Self-Helplessness Yudha Tri Prasetya
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.9159

Abstract

Anak dengan disabilitas memiliki kerentanan tinggi terhadap perundungan, baik dalam bentuk verbal, sosial, fisik, maupun digital. Pengalaman tersebut dapat menimbulkan learned helplessness, yaitu kondisi ketika korban merasa tidak berdaya, menerima stigma negatif, dan kehilangan keyakinan untuk mengubah keadaan. Artikel ini bertujuan mengeksplorasi mekanisme pembentukan resiliensi pada anak disabilitas korban perundungan melalui sintesis model PERMA dalam Psikologi Positif dan perspektif Indigenous Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur naratif dengan menelaah berbagai sumber ilmiah nasional dan internasional yang relevan mengenai perundungan, disabilitas, learned helplessness, resiliensi, kesejahteraan psikologis, serta nilai kearifan lokal. Hasil kajian menunjukkan bahwa resiliensi dapat dibangun melalui pendekatan menyeluruh yang mencakup dimensi kognitif, emosional, dan sosial. Pada dimensi kognitif, gaya atribusi pesimis perlu diputus melalui penguatan optimisme yang selaras dengan nilai tawakal, sehingga anak mampu melihat kegagalan sebagai pengalaman sementara dan tidak menentukan harga dirinya. Pada dimensi emosional, kebencian terhadap diri dapat ditransformasi menjadi penerimaan diri melalui nilai nrimo yang dimaknai sebagai kesadaran aktif untuk berdamai dengan kondisi diri tanpa menyerah pada keadaan. Pada dimensi sosial, isolasi korban dapat dikurangi melalui penguatan komunitas kolektif berbasis nilai guyub yang menekankan dukungan, keterhubungan, dan rasa memiliki. Sintesis antara pendekatan ilmiah modern dan kearifan lokal membuktikan bahwa pemulihan anak disabilitas korban perundungan memerlukan intervensi yang peka budaya, memberdayakan, dan berorientasi pada potensi unik individu. Artikel ini merekomendasikan pengembangan program intervensi di sekolah inklusi yang memadukan kesejahteraan psikologis, dukungan sosial, identitas budaya, partisipasi keluarga, pelatihan guru, dan lingkungan belajar aman agar anak mampu berkembang sebagai penyintas tangguh dalam kehidupan sekolah dan masyarakat inklusif.
RESILIENSI PADA IBU DENGAN ANAK KEBUTUHAN KHUSUS TUNA GRAHITA DI SEKOLAH LUAR BIASA B.C. PUTERA BAHAGIA KLATEN Nadya Ali Suryani; Yudha Tri Prasetya
Journal of Public Health Science Vol. 2 No. 3 (2025): September
Publisher : Yayasan Nuraini Ibrahim Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70248/jophs.v2i3.3096

Abstract

Resiliensi merupakan aspek penting yang harus dimiliki oleh individu dalam mengatasi stres, tekanan, kecemasan, dan depresi. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat resiliensi ibu yang memiliki anak kebutuhan khusus tuna grahita di Sekolah Luar Biasa B.C. Putera Bahagia Klaten. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus hingga September 2025. Intrumen yang digunakan adalah kuesioner Connor-Davidson Resilience Scale 25 CD-RISK 25 versi bahasa Indonesia yang telah diadaptasi. Berdasarkan hasil pengukuran kuesioner CD-RISC 25 tingkat resiliensi pada ibu dengan anak kebutuhan khusus tunagrahita di SLB B.C. putera bahagia klaten menunjukkan bahwa sebanyak 50 ibu yang memiliki anak kebutuhan khusus tuna grahita dengan presentase 92,5% memiliki resiliensi yang sedang dan sebanyak 4 ibu yang memiliki anak kebutuhan khusus tuna grahita dengan presentase 7,5% memiliki resiliensi yang tinggi. Hasil penelitian ini dapat menjadi sumber data dan acuan untuk mengembangkan program atau intervensi yang lebih efektif oleh tenaga kesehatan dan psikolog dalam menangani permasalahan kesehatan mental pada ibu dengan anak berkebutuhan khusus anak dengan tunagrahita.