Andoyo Sastromiharjo
Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Jawa Barat

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Cultural Narrative Architecture: Integrasi Struktur Greimas, Kearifan Lokal, dan Memori Budaya dalam Trilogi Sejarah Sunda Achyar Effendi; Sumiyadi Sumiyadi; Andoyo Sastromiharjo; Halimah Halimah
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/d9st0r87

Abstract

Kajian naratif terhadap fiksi sejarah Indonesia menunjukkan kecenderungan baru yang menempatkan struktur penceritaan sebagai medium penting dalam pembentukan memori budaya. Penelitian ini berfokus pada pengkajian trilogi sejarah Sunda karya Saini K. M. melalui sintesis antara model aktansial dan skema fungsi naratif A. J. Greimas dengan analisis kearifan lokal, yang selanjutnya dirumuskan dalam sebuah kerangka konseptual bernama Cultural Narrative Architecture. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif dengan menjadikan tiga novel sebagai satu kesatuan dunia naratif. Proses analisis dilakukan melalui penguraian posisi aktan—meliputi subjek, objek, pengirim, penerima, penolong, dan penentang—serta penelusuran tahapan fungsi naratif berupa kontrak, kompetensi, performansi, dan sanksi, disertai identifikasi nilai-nilai kearifan lokal yang terartikulasikan dalam alur cerita dan penggambaran tokoh. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa struktur aktansial trilogi membentuk pola yang relatif konsisten, dengan kepemimpinan, ingatan leluhur, dan legitimasi kekuasaan berperan sebagai muatan budaya dominan. Analisis fungsi naratif mengindikasikan transformasi nilai dari orientasi kepemimpinan personal menuju penguatan solidaritas kolektif, sementara pemetaan kearifan lokal menegaskan empat ranah utama, yakni integritas moral, keharmonisan relasi kekerabatan, keseimbangan kosmologis, serta kesinambungan memori lintas generasi. Dengan demikian, integrasi ketiga lapisan analisis tersebut menghasilkan model Cultural Narrative Architecture yang mampu menjelaskan mekanisme fiksi sejarah Sunda dalam mengelola memori kolektif sekaligus membangun identitas budaya. Secara teoretis, penelitian ini memperkaya pengembangan naratologi dan studi memori kultural berbasis lokal, sedangkan secara praktis menawarkan kerangka analitis bagi pemanfaatan fiksi sejarah dalam konteks pendidikan yang berorientasi pada kearifan lokal. Cultural Narrative Architecture: Integrative Model of Greimasian Structure, Local Wisdom, and Cultural Memory in the Sundanese Historical Trilogy Recent scholarship on Indonesian historical fiction has increasingly foregrounded narrative structure as a key mechanism in the construction of cultural memory. This study examines Saini K. M.’s Sundanese historical trilogy by combining Greimasian actantial and functional models with an analytical mapping of local wisdom, resulting in the formulation of a conceptual framework referred to as Cultural Narrative Architecture. Employing a qualitative interpretive approach, the research treats the three novels as a unified narrative continuum. The analysis involves identifying actantial roles—namely subject, object, sender, receiver, helper, and opponent—alongside tracing the functional sequence of contract, competence, enactment, and sanction, as well as delineating domains of local wisdom embedded in narrative progression and character construction. The findings reveal a relatively stable actantial configuration in which leadership values, ancestral remembrance, and political legitimacy emerge as central cultural drivers. The functional development of the narrative indicates a gradual ethical transition from individual-centred leadership towards collective responsibility, while the examination of cultural values highlights four recurring domains: moral integrity, kinship solidarity, cosmological equilibrium, and the continuity of intergenerational memory. It can therefore be concluded that the integration of these analytical dimensions produces a Cultural Narrative Architecture model that elucidates how Sundanese historical fiction structures collective memory and contributes to the formation of cultural identity. From a theoretical standpoint, the study extends narrative theory and cultural memory studies through a locally grounded perspective, while practically providing an analytical tool for incorporating historical fiction into educational practices rooted in local wisdom.
Berpikir Kritis dalam Wacana Akademik: Analisis Wacana Kritis terhadap Artikel di Jurnal Terindeks Scopus Dewi Herlina Sugiarti; Syihabuddin Syihabuddin; Andoyo Sastromiharjo; Khaerudin Kurniawan
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/zzgyfy20

Abstract

Berpikir kritis merupakan kompetensi kunci dalam praktik akademik, namun kajian sebelumnya cenderung memaknainya sebagai kemampuan kognitif individual dan jarang menempatkan teks artikel jurnal sebagai objek analisis. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi indikator berpikir kritis dalam teks artikel jurnal terindeks Scopus melalui pendekatan Analisis Wacana Kritis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain analisis teks multiartikel. Data penelitian berupa sepuluh artikel jurnal terindeks Scopus yang dipilih secara sistematis melalui tahapan Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Analisis data dilakukan dengan memanfaatkan indikator berpikir kritis Facione, meliputi interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, eksplanasi, dan regulasi diri, sebagai lensa analitik untuk mengidentifikasi pola diskursif dalam teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator interpretasi dan analisis muncul secara konsisten dalam seluruh artikel yang dianalisis, sementara indikator evaluasi, inferensi, eksplanasi, dan regulasi diri menunjukkan variasi intensitas kemunculan antarteks. Temuan ini menunjukkan bahwa berpikir kritis direpresentasikan sebagai praktik diskursif yang terintegrasi dalam cara penulis membangun argumen, menafsirkan data, dan mengelola klaim pengetahuan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa berpikir kritis dalam teks artikel jurnal berfungsi sebagai praktik diskursif yang berperan dalam konstruksi dan legitimasi pengetahuan ilmiah. Critical Thinking as a Discursive Practice in Journal Articles: A Critical Discourse Analysis of Critical Thinking Indicators Critical thinking is a core competence in academic practice; however, previous studies have largely conceptualized it as an individual cognitive ability and have rarely examined academic journal articles as objects of analysis. This study aims to examine how critical thinking indicators are discursively represented in Scopus-indexed journal articles using a Critical Discourse Analysis approach. Employing a qualitative multi-article text analysis design, the study analyzes ten Scopus-indexed journal articles selected through a systematic procedure guided by the PRISMA framework. Data were analyzed using Facione’s critical thinking indicators, interpretation, analysis, evaluation, inference, explanation, and self-regulation, as analytical lenses to identify recurring discursive patterns across texts. The findings indicate that interpretation and analysis consistently appear in all analyzed articles, whereas evaluation, inference, explanation, and self-regulation show varying degrees of representation. These results suggest that critical thinking is discursively enacted through argumentative construction, data interpretation, and the management of knowledge claims. The study concludes that critical thinking in journal articles functions as a discursive practice that contributes to the construction and legitimation of academic knowledge.
Pemetaan Riset Integrasi Toulmin dan Literasi Data pada Pembelajaran Menulis Teks Eksposisi Ulfah Nurzulfa Setiadi; Andoyo Sastromiharjo; Vismaia S Damaianti; Yeti Mulyati
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/dax7fa25

Abstract

Transformasi pendidikan abad ke-21 menuntut pembelajaran menulis teks eksposisi yang tidak hanya menekankan struktur kebahasaan, tetapi juga kualitas penalaran dan penggunaan data sebagai dasar argumentasi. Pola argumen Toulmin dan literasi data telah banyak dikaji secara terpisah, namun kajian yang secara sistematis memetakan integrasi keduanya dalam pembelajaran menulis teks eksposisi masih terbatas dan terfragmentasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis tren penelitian, karakteristik metodologis, temuan utama, serta kesenjangan riset terkait integrasi pola argumen Toulmin dan literasi data dalam pembelajaran menulis teks eksposisi. Penelitian menggunakan pendekatan systematic literature review yang dipadukan dengan analisis bibliometrik, mengikuti panduan PRISMA 2020. Penelusuran literatur dilakukan pada basis data Scopus, Google Scholar, dan Semantic Scholar dengan rentang publikasi tahun 2014–2025 menggunakan kombinasi kata kunci terkait Toulmin, literasi data, dan pembelajaran menulis. Dari 277 dokumen awal, sebanyak 19 artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara kualitatif serta divisualisasikan menggunakan VOSviewer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pola argumen Toulmin efektif meningkatkan struktur dan kejelasan argumentasi tulisan, namun integrasi literasi data masih cenderung bersifat implisit dan belum menjadi fokus pembelajaran utama. Selain itu, penelitian didominasi oleh konteks EFL dan pendidikan tinggi, dengan keterbatasan kajian pada pembelajaran bahasa Indonesia dan jenjang sekolah menengah. Penelitian ini menegaskan perlunya pengembangan model pembelajaran menulis teks eksposisi yang secara eksplisit mengintegrasikan pola argumen Toulmin, literasi data, dan kesadaran metakognitif, serta disesuaikan dengan konteks linguistik dan budaya Indonesia. Mapping Research on Toulmin Integration and Data Literacy in Learning to Write Expository Texts The transformation of twenty-first-century education calls for the teaching of expository writing that goes beyond linguistic structure to foreground the quality of reasoning and the use of data as a basis for argumentation. While Toulmin’s argumentation pattern and data literacy have been widely examined as separate constructs, systematic accounts of their integration in expository writing instruction remain limited and fragmented. This study aims to analyse research trends, methodological characteristics, key findings, and research gaps related to the integration of Toulmin’s argumentation pattern and data literacy in expository writing instruction. Adopting a systematic literature review combined with bibliometric analysis, the study follows the PRISMA 2020 guidelines. Literature searches were conducted in Scopus, Google Scholar, and Semantic Scholar, covering publications from 2014 to 2025 and employing keyword combinations related to Toulmin, data literacy, and writing instruction. Of the 277 records initially identified, 19 articles met the inclusion criteria and were subjected to qualitative synthesis and bibliometric visualisation using VOSviewer. The findings indicate that the application of Toulmin’s argumentation pattern effectively enhances the structural coherence and clarity of written arguments; however, data literacy is often addressed implicitly and has yet to become a central focus of writing instruction. In addition, existing studies are predominantly situated in EFL contexts and higher education, with limited attention to Indonesian language instruction and secondary education. These findings underscore the need for the development of expository writing pedagogies that explicitly integrate Toulmin’s argumentation pattern, data literacy, and metacognitive awareness, while being responsive to linguistic and cultural contexts.
Pemetaan Kendala Penulisan Ilmiah Mahasiswa: Sebuah Pendekatan SEM-PLS Perla Yualita; Yeti Mulyati; Yulianeta Yulianeta; Vismaia S. Damaianti; Andoyo Sastromiharjo
Indonesian Language Education and Literature Vol. 11 No. 2 (2026)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/8n18gf49

Abstract

Penulisan ilmiah merupakan kompetensi akademik yang menuntut kemampuan linguistik, kognitif, afektif, dan literasi teknologi yang memadai. Namun, berbagai temuan menunjukkan bahwa mahasiswa masih menghadapi beragam hambatan dalam memulis karya tulis ilmiah secara efektif. Tujuan penelitian ini untuk memetakan dan menganalisis hambatan utama yang memengaruhi kemampuan menulis karya tulis ilmiah mahasiswa dengan SEM-PLS. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif  desain cross-sectional  dengan SEM-PLS. Responden sebanyak 144 mahasiswa yang dipilih secara purposive. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner  dengan nilai validitas 0,703-0,882 dan reliabilitas 0,766-0,829. Hasil menunjukkan bahwa hambatan afektif merupakan satu-satunya hambatan yang berpengaruh langsung dan signifikan terhadap kesulitan menulis karya tulis ilmiah mahasiswa. Sebaliknya, hambatan linguistik, kognitif, dan teknologi tidak menunjukkan pengaruh langsung, tetapi berpengaruh melalui hubungan mediasi. Temuan penting lainnya menunjukkan adanya jalur mediasi berantai dari hambatan linguistik menuju kesulitan menulis melalui hambatan afektif dan kognitif, serta hubungan kuat antarhambatan internal, seperti pengaruh signifikan hambatan afektif terhadap hambatan kognitif dan hambatan kognitif terhadap hambatan teknologi. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa kesulitan menulis mahasiswa bersifat multidimensional dan lebih dipengaruhi oleh dinamika afektif daripada kemampuan teknis semata. Implikasi penelitian ini merekomendasikan perlunya intervensi pembelajaran menulis yang berfokus pada penguatan aspek emosional, pemikiran kritis, dan literasi digital secara terpadu di perguruan tinggi. Mapping Barriers to Academic Writing among University Student: A SEM-PLS Approach Scientific writing is an academic competence that demands adequate linguistic, cognitive, affective, and technological literacy skills. However, various findings indicate that students still face diverse obstacles in writing scientific papers effectively. This study aims to map and analyze the primary barriers influencing students' scientific writing abilities using Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS). The research employs a quantitative, cross-sectional design. A total of 144 students were selected as respondents through purposive sampling. Data were collected using a questionnaire with validity scores ranging from 0.703 to 0.882 and reliability scores between 0.766 and 0.829. The results demonstrate that affective barriers are the only factors that directly and significantly influence students' difficulties with scientific writing. In contrast, linguistic, cognitive, and technological barriers do not show a direct impact but instead operate through mediating relationships. Another key finding reveals a serial mediation path from linguistic barriers to writing difficulties through affective and cognitive barriers. Furthermore, strong interrelationships exist among internal obstacles, such as the significant influence of affective barriers on cognitive barriers and of cognitive barriers on technological barriers. The conclusion of this study reaffirms that students' writing difficulties are multidimensional and are more heavily influenced by affective dynamics than by mere technical proficiency. The implications of this research recommend the need for writing interventions that focus on the integrated strengthening of emotional aspects, critical thinking, and digital literacy in higher education.