Latar belakang: Masalah gizi yang disoroti saat ini adalah stunting, yaitu kondisi ketika panjang atau tinggi badan anak berada di bawah standar pertumbuhan. Faktor-faktor yang paling berperan meliputi ketidakcukupan asupan gizi, infeksi, kemiskinan, sanitasi lingkungan yang buruk, keterbatasan ketersediaan pangan, pola asuh yang kurang tepat, serta layanan kesehatan yang belum optimal. Tujuan: Menganalisis hubungan pengetahuan ibu terkait ASI eksklusif terhadap kejadian stunting pada balita. Metode: Penelitian menggunakan desain cross sectional. Populasi berjumlah 29 balita berusia 6–23 bulan di Desa Umbu Kecamatan Gido dan seluruhnya dijadikan sampel (total sampling). Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner dan microtoise untuk pengukuran antropometri. Analisis statistik menggunakan chi-square test. Hasil: Mayoritas ibu yang tidak berhasil memberikan ASI eksklusif (16 orang) memiliki anak yang tidak mengalami stunting. Sementara dari 17 orang (58,6%) ibu berpengetahuan baik, terdapat 3 orang memiliki balita stunting. Analisis statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan ibu (p = 0,433; OR = 0,536) dengan kejadian stunting, namun terdapat hubungan bermakna antara keberhasilan ASI eksklusif (p = 0,006; OR = ∞) dengan kejadian stunting. Kesimpulan: Pengetahuan ibu yang baik belum tentu diimplementasikan dalam praktik pencegahan stunting dari sisi pemenuhan kebutuhan nutrisi anak. Sebaliknya, pemberian ASI eksklusif terbukti dapat mencegah kejadian stunting pada balita. Saran: Tenaga kesehatan perlu melakukan pemantauan rutin terhadap status gizi balita dan memberikan intervensi dini apabila ditemukan risiko gangguan gizi.