Akselerasi teknologi Akal Imitasi (AI) telah diadopsi secara antusias oleh mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Salatiga. Namun, adopsi yang masif ini membawa risiko serius berupa banjir disinformasi dan erosi integritas akademik, yang disebabkan oleh minimnya literasi kritis kognitif dan etika digital Islami mahasiswa. Permasalahan ini melatarbelakangi penelitian yang bertujuan mengidentifikasi manfaat akal imitasi sebagai media pembelajaran dalam membentuk literasi kritis dan memperkuat etika digital Islami mahasiswa PAI UIN Salatiga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik studi kasus. Lokasi penelitian adalah UIN Salatiga. Subjek penelitian terdiri dari 20 mahasiswa dan 3 dosen aktif program studi PAI. Data yang digunakan adalah data primer, yang diperoleh langsung dari subjek yang terlibat dalam pembelajaran berbasis AI. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik triangulasi, meliputi wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan kerangka Miles dan Huberman, yang melibatkan kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden antusias memanfaatkan platform akal imitasi (seperti ChatGPT, Perplexity AI, dan Gemini AI) sebagai alat bantu akademik dan media pembelajaran. Akal imitasi berfungsi sebagai katalisator literasi kritis, memaksa mahasiswa beralih dari sekadar menghafal menjadi kemampuan memvalidasi dan mengkritisi output akal imitasi, sehingga secara inheren melatih daya analisis. Meskipun demikian, risiko ketergantungan dan plagiasi menuntut penanaman etika digital Islami, yang berlandaskan kejujuran dan tanggung jawab moral, untuk menjamin kontribusi akademik yang orisinal. Kesimpulannya, adopsi akal imitasi esensial untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan menumbuhkan penalaran kritis mahasiswa PAI UIN Salatiga. Implementasi akal imitasi harus dijalankan melalui strategi komprehensif, mencakup pemahaman potensi dan risiko, serta penanaman nilai etis secara berkelanjutan.