Generasi Alpha tumbuh sebagai kelompok demografis dengan tingkat literasi digital yang tinggi, namun menghadapi paradoks serius berupa kerapuhan emosional dan penurunan kedalaman pemahaman agama akibat dominasi budaya informasi instan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi revitalisasi peran guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam membangun ketahanan spiritual siswa guna merespons tantangan disrupsi teknologi dan pergeseran otoritas pengetahuan ke kecerdasan buatan (AI). Mengadopsi pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, penelitian ini melibatkan partisipan guru PAI di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan SaldaƱa. Hasil penelitian mengidentifikasi adanya tantangan psikologis berupa fenomena "Strawberry Generation" dan tantangan kognitif berupa "Brainrot" pada siswa. Sebagai respons strategis, guru merevitalisasi peran mereka melalui tiga pendekatan integratif: pendekatan humanis (membangun bonding emosional), pendekatan pedagogis (menerapkan Deep Learning), dan pendekatan institusional (penguatan tradisi tatap muka). Studi ini juga menemukan pergeseran fungsi guru menjadi "kurator konten" yang memfilter validitas informasi digital. Disimpulkan bahwa ketahanan spiritual siswa terbentuk melalui transformasi guru menjadi Murabbi adaptif yang didukung penuh oleh sinergi ekosistem antara sekolah dan keluarga. Implikasi studi ini menekankan bahwa pendidikan agama di era digital harus menyeimbangkan kompetensi teknis dengan internalisasi nilai yang kokoh untuk mencetak generasi yang tangguh