Shofiyullah Muzammil
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tazkiyah al-Nafs in Al-Ghazali’s Thought: A Sufi Framework for Enhancing Mental Resilience among Generation-Z Ahmad Farid Fanani; Rifat Syauqi Efendi; Shofiyullah Muzammil
Tasfiyah: Jurnal Pemikiran Islam Vol. 10 No. 1 (2026): Tasfiyah: Jurnal Pemikiran Islam
Publisher : University of Darussalam Gontor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tasfiyah.v10i1.4

Abstract

Generation Z, often referred to as the “Strawberry Generation,” is characterized by marked psychological vulnerability arising from social pressures and intensive digital exposure. This condition requires an approach that is not only technical but also spiritual, such as the concept of tazkiyah al-nafs in Islamic teachings. Accordingly, this study aims to analyze the potential of tazkiyah al-nafs as a mental resilience strategy for Generation Z based on al-Ghazali’s thought. This research employs a qualitative approach using the library research method with content analysis techniques. The data sources include Ihya’ ‘Ulum al-Dīn, scientific articles, and thematic books related to tazkiyah al-nafs and mental health. The findings indicate that tazkiyah al-nafs provides a systematic spiritual framework for cultivating mental resilience. The stage of takhallī teaches the release of blameworthy traits such as anger, envy, and worldly attachment, which often constitute the roots of emotional instability. Taḥallī instills virtues such as patience, gratitude, trust in God, and humility, which strengthen psychological stability and foster a sense of life meaning. Meanwhile, tajallī represents a phase of spiritual illumination in which individuals attain inner peace and profound transcendental awareness. Collectively, these three stages enhance coping capacity and establish a holistic structure of long-term resilience. This study contributes to integrating Sufi values into the framework of modern Islamic psychology while expanding the discourse on spiritual interventions as concrete solutions to mental health challenges among young generations.
Board of Peace dan Nalar Publik an-Na’im dalam Diplomasi Moral Indonesia terhadap Palestina Rofiqoh Romadhoni; Annisa Aufi Rahmi; Shofiyullah Muzammil
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 5 No. 10: September 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v5i10.18812

Abstract

Artikel ini mengkaji keterlibatan Indonesia dalam ketergabungannya di Board of Peace (BOP) terkait Genosida di Palestina melalui perspektif nalar publik yang dikembangkan oleh Abdullahi Ahmed an-Na’im. Keikutsertaan Indonesia yang dinyatakan sebagai wujud politik bebas aktif Indonesia serta berkontribusi dalam perdamaian di Palestina. Namun demikian, hal ini memunculkan perdebatan di ruang publik mengenai konsistensi politik luar negeri bebas aktif serta legitimasi moral kebijakan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis normatif-kritis terhadap dokumen kebijakan, wacana diplomatic, dan literatur pendukung. Dengan menggunakan kerangka nalar publik an-Na’im, penelitian ini menilai bahwa pertimbangan kebijakan diplomatik tidak hanya dipengaruhi oleh kepentingan strategis negara, tetapi juga terkait moralitas yang dapat diterima dalam ruang publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keikutsertaan Indonesia dalam Dewan Perdamaian tersebut sebagai upaya diplomasi dalam mewujudkan perdamaian di Palestina. Namun, di sisi lain juga Genosida tetap berlanjut di Palestina dan krisis kemanusiaan berkepanjangan, serta tidak adanya representasi Palestina secara formal dalam BoP menjadi celah bagi ruang publik untuk memperdebatkan moral kebijakan tersebut. Melalui kerangka nalar publik, penelitian ini menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri tidak hanya mempertimbangkan kepentingan strategis negara, tetapi juga memerlukan justifikasi moral yang dapat diterima secara rasional dalam ruang publik yang plural. Dengan demikian, diplomasi moral menjadi elemen penting dalam menilai legitimasi dan tanggung jawab kebijakan luar negeri Indonesia.