Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MOTIVASI PERNIKAHAN DINI DAN IMPILAKSINYA DALAM KEHIDUPAN KEAGAMAAN (STUDI KASUSDUSUN BATU MULIK, KECAMATAN GERUNG, KABUPATEN LOMBOK BARAT) Kharisma Ika Putri; Arrosikh
Indonesian Society and Religion Research Vol. 3 No. 1 (2026): Indonesian Society and Religion Research
Publisher : YAYASAN CENDEKIA CITRA GEMILANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61798/isah.v3i1.798

Abstract

Pernikahan dini, yaitu pernikahan yang terjadi di bawah usia yang dianggap matang secara hukum dan sosial, merupakan fenomena yang masih banyak terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan Menyatakan usia minimal pernikahan adalah 19 tahun, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motivasi dan implikasi pernikahan dini dalam kehidupan keagamaan di Dusun Batu Mulik. Dengan ini peneliti mengunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data ini menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan teori perilaku sosiologis.Berdasarkan hasil penelitian ini, motivasi pernikahan dini di Dusun Batu Mulik dapat dibedakan menjadi dua, yaitu motivasi intrinsik, yaitu motivasi yang berasal dari dalam diri pelaku untuk menikah di usia muda. Sedangkan motivasi ekstrinsik yaitu motivasi yang datang dari luar diri pelaku untuk menikah di usia muda, seperti bimbingan dari orang lain, dukungan keluarga, dan lingkungan sosial. Dari kedua motivasi tersebut, yang paling berpengaruh bagi mereka melakukan menikah di usia muda adalah motivasi intrinsik. Melakukan pernikahan di usia muda tanpa paksaan dari kedua orang tua atau keluarga. Pernikahan dini memiliki dampak signifikan terhadap kehidupan keagamaan. Di satu sisi, pernikahan dini dapat memperkuat komitmen religius karena pasangan cenderung mencari dukungan dan panduan dari agama untuk menghadapi tantangan pernikahan dan tanggung jawab keluarga yang berat. Di Sisi lain, pernikahan dini juga dapat meyebabkan berbagai permasalahan seperti ketidaksiapan mental dan emosional, yang dapat mengurangi partisipasi aktif dalam kegiatan keagamaan
Komunikasi Budaya Dalam Tradisi Nyelametang Gumi: Konstruksi Moral Dalam Tradisi Lokal Di Desa Kebon Ayu kharisma ika putri; abdul malik; abdul wahid
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 8 No. 3 (2025): August 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i3.3458

Abstract

Tradisi Nyelametang Gumi di Desa Kebon Ayu, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat merupakan bentuk budaya yang masih terjaga hingga saat ini. Tradisi Nyelametang Gumi merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan dan alam atas panen yang melimpah, serta permohonan keselamatan untuk musim tanam berikutnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana komunikasi budaya terjadi dalam tradisi gumi nyelametang dan nilai-nilai moral apa saja yang terkandung di dalamnya. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif, melalui wawancara, observasi, dan tinjauan dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Nyelametang Gumi mencerminkan bentuk komunikasi budaya yang kaya akan simbolisme, nilai-nilai spiritual, sosial, dan ekologis. Melalui simbol-simbol dan praktik ritual ini, masyarakat mengkomunikasikan nilai-nilai moral seperti rasa syukur, harmoni dengan alam, solidaritas sosial, penghormatan kepada leluhur, dan pelestarian budaya. Selain sebagai bentuk spiritualitas, tradisi Nyelametang Gumi juga merupakan sarana komunikasi verbal dan nonverbal. Tradisi ini menunjukkan bahwa budaya dan komunikasi membentuk dan saling menguatkan dalam menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat