Edward Gland Tetelepta
Program Studi Pendidikan Geografi FKIP Universitas Pattimura

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dampak Aktivitas Manusia terhadap Kondisi Wilayah Rawan Longsor di Batu Koneng, Kota Ambon Fatmawati Tamher; Edward Gland Tetelepta; Mohammad Amin Lasaiba
JENDELA PENGETAHUAN Vol 19 No 1 (2026): JENDELA PENGETAHUAN
Publisher : Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jp19iss1pp120-131

Abstract

Longsor merupakan salah satu bencana yang sering terjadi pada wilayah perbukitan dengan karakteristik lereng curam, kondisi tanah yang mudah mengalami perubahan, dan curah hujan tinggi. Batu Koneng, Kota Ambon, termasuk kawasan yang memiliki tingkat kerawanan longsor tinggi akibat kombinasi faktor fisik wilayah dan meningkatnya aktivitas manusia dalam pemanfaatan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak aktivitas manusia terhadap kondisi wilayah rawan longsor di Batu Koneng serta mengidentifikasi upaya mitigasi yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko bencana. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara terhadap 15 informan yang terdiri atas aparat dusun, tokoh masyarakat, dan warga setempat, serta dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi fisik wilayah Batu Koneng ditandai oleh kemiringan lereng yang curam, tanah hasil pelapukan, berkurangnya vegetasi penahan lereng, dan sistem drainase yang belum berfungsi secara optimal. Aktivitas manusia berupa pembangunan permukiman pada area lereng, pembukaan lahan, pemotongan dan penimbunan tanah (cut and fill), serta pengelolaan drainase yang kurang baik berkontribusi terhadap perubahan kondisi fisik lereng, peningkatan erosi, dan bertambahnya kerentanan longsor. Temuan penelitian menunjukkan bahwa peningkatan risiko longsor tidak hanya dipengaruhi oleh karakteristik fisik wilayah, tetapi juga oleh intensitas pemanfaatan lahan yang kurang memperhatikan daya dukung lingkungan. Oleh karena itu, penguatan vegetasi lereng, perbaikan sistem drainase, pengendalian pembangunan pada kawasan berisiko, serta peningkatan edukasi dan partisipasi masyarakat perlu diintegrasikan dalam strategi mitigasi guna mendukung pengelolaan lingkungan yang aman, adaptif, dan berkelanjutan.
Faktor-Faktor Penyebab Kerusakan Ekosistem Terumbu Karang di Perairan Desa Kufar Kecamatan Tutok Tolu Kabupaten Seram Bagian Timur Siti Saleha Fatlira; Mohammad Amin Lasaiba,; Edward Gland Tetelepta
Jurnal Pendidikan Geografi Unpatti Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : Program Studi Pendidikan Geografi FKIP Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/jpguvol5iss1pp59–69

Abstract

Ekosistem terumbu karang memiliki peran penting secara ekologis dan sosial ekonomi, namun mengalami penurunan kualitas akibat tekanan lingkungan dan aktivitas manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi terumbu karang, mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kerusakan, serta menentukan faktor yang paling dominan di perairan Desa Kufar, Kabupaten Seram Bagian Timur. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap masyarakat pesisir dan nelayan yang dipilih secara purposive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi terumbu karang mengalami degradasi yang ditandai oleh kerusakan fisik, pemutihan karang, serta penurunan populasi ikan karang. Faktor penyebab terdiri dari faktor alami seperti peningkatan suhu, sedimentasi, dan predator alami, serta faktor antropogenik seperti penangkapan ikan destruktif, penggunaan alat tangkap tidak ramah lingkungan, dan pencemaran laut. Temuan utama menunjukkan bahwa aktivitas manusia menjadi faktor paling dominan karena bersifat terus-menerus dan berdampak lebih besar dibandingkan faktor alami. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan berbasis persepsi masyarakat dalam mengungkap dinamika kerusakan terumbu karang di wilayah yang minim data kuantitatif, sekaligus memberikan kontribusi pada penguatan analisis sosial-ekologis dalam kajian pesisir. Implikasinya, diperlukan pengelolaan berkelanjutan melalui peningkatan kesadaran masyarakat, pengawasan aktivitas perikanan, serta kebijakan lingkungan yang lebih tegas, dengan rekomendasi penerapan praktik penangkapan ramah lingkungan dan program edukasi berbasis komunitas. Kata kunci: terumbu karang, kerusakan ekosistem, faktor antropogenik