Viola Vianda Sari
Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Salawat Pada Upacara Kematian Di Koto Panjang Kecamatan Lamposi Tigo Nagori Payakumbuah Kajian Semiologi Lidya Triana; Viola Vianda Sari; Syahri Anton
Jurnal Musik Etnik Nusantara Vol 6, No 1 (2026): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v6i1.30911

Abstract

Penelitian Salawat pada Upacara Kematian di Koto Panjang Kecamatan Lamposi Tigo Nagori Kota Payakumbuh (dalam Kajian Semiologi) merupakan kaiian tentang simbol seni budaya yang terkadung dalam upacara tersebut, yang berkaitan dengan seni Islami. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap makna melalui simbol yang ada pada upacara tersebut. Penelitian ini merupakan jenis kualitatif dengan pendekatan metode deskriptif analisis. Salawat berarti pujian yang diserukan demi mendapat syafaat dari Nabi dan keberkahan dari Allah. Salawat pada masyarakat Koto Panjang dilaksanakan pada saat upacara kematian dan bagi masyarakat Koto Panjang Salawat diyakini dapat memberikan kebaikan dan syafaat bagi arwah yang telah meninggal dan juga untuk keluarga yang ditinggalkan. Data diperoleh dari berbagai sumber, baik dari observasi, wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan yang berkaitan dengan penelitian. Analisis data dalam kajian ini menggunakan teori Semiotika .Hasil penelitian menjelaskan bahwa ada makna yang terkandung melalui simbol dalam salawat tersebut. Simbol yang memiliki makna itu dapat terlihat melalui struktur penyaiian, waktu, pembaca Salawat musik dalam Salawat sajian makanan, busana, penonton. Secara simbol kegiatan Salawat menjadi sebuah penanda bagi masyarakat Koto Paniang dalam hal kematian" selain itu juga simbol kecintaan umat manusia terhadap Allah dan Nabi Muhammad SAW, serta sebagai simbol kecintaan antara sesama manusia Kegiatan Salawat iuga menandakan bahwa masyarakat Koto Panjang merupakan pemeluk agama Islam yang patuh dan taat pada Allah, sekaligus sebagai simbol dalam menjaga adat yang bersandikan Syarak Syarak Basandi Kitabullah
SIMBOL DAN MAKNA TARI PERANG CENTONG DALAM TRADISI NGASA KAMPUNG BUDAYA JALAWASTU SEBAGAI PELESTARIAN BUDAYA Turyati Turyati; Viola Vianda Sari; Septiana Yustika Widyaningrum
PANGGUNG Vol 36 No 1 (2026): Echoes of Archipelago Mythos: Interweaving Tradition, Symbolism, and Narrative i
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v36i1.4308

Abstract

This study examines Tari Perang Centong in the Kampung Adat Jalawastu community, Brebes, specifically its role during the Tradisi Ngasa ceremony. Beyond performance, the dance acts as a cultural representation of community ideology. This study aims to analyze the symbols in Tari Perang Centong and their role in preserving ancestral culture. Employing a qualitative ethnographic approach, the research utilized participant observation, in-depth interviews, and documentation to collect data. Applying Roland Barthes’ semiotic theory, the findings reveal that the dance’s choreographic symbols manifest the community’s local life, belief systems, and cultural identity. Tari Perang Centong serves as a vital medium for transmitting cultural values across generations, thereby strengthening communal identity and preserving ancestral traditions. Ultimately, this research contributes to the academic study of performing arts and provides a strategic reference for cultural preservation efforts.