Masa remaja merupakan fase perkembangan yang ditandai oleh perubahan biologis, psikologis, dan sosial yang berlangsung secara cepat, sehingga menjadikan remaja sebagai kelompok yang rentan terhadap berbagai pengaruh lingkungan, termasuk di ranah digital. Kemudahan akses media sosial tanpa diimbangi dengan edukasi yang memadai meningkatkan risiko terjadinya kejahatan digital, salah satunya adalah fenomena child grooming, yaitu proses manipulasi bertahap oleh orang dewasa untuk mendapatkan kepercayaan dan kedekatan emosional anak dengan tujuan eksploitasi. Berdasarkan analisis kebutuhan di SMA Negeri 9 Tasikmalaya, ditemukan bahwa siswa masih memiliki keterbatasan pengetahuan terkait pengertian, tahapan, ciri, dampak, serta cara pencegahan child grooming. Oleh karena itu, dilaksanakan kegiatan edukasi kepada 39 siswa kelas X-3 melalui metode edukasi partisipatif berupa ice breaking, penyampaian materi menggunakan media visual dan video simulasi, diskusi, tanya jawab, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan siswa. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa setelah pelaksanaan edukasi. Pada pre-test, rata-rata nilai siswa sebesar 60. Setelah kegiatan dilaksanakan, rata-rata nilai post-test meningkat menjadi 96,4. Selain itu, sebanyak 94,9% siswa memperoleh nilai 100 pada post-test, sedangkan hanya 2,6% siswa memperoleh nilai 20 dan 2,6% siswa memperoleh nilai 40. Data tersebut menunjukkan bahwa edukasi yang diberikan efektif dalam meningkatkan pemahaman dan pengetahuan siswa, meskipun partisipasi siswa masih bervariasi dan terdapat kendala keterbatasan waktu, sehingga perlu dikembangkan lebih lanjut dengan metode yang lebih interaktif dan pengelolaan waktu yang optimal.