This Author published in this journals
All Journal JURNAL PANGAN
Hikmah Hassan, Zahirotul
Perum BULOG

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kajian Rendemen dan Mutu Giling Beras di Kabupaten Kotabaru Provinsi Kalimantan Selatan Assessment on Milling Yield and Milling Quality ofMilled Rice in Kota Baru District, South Kalimantan Province Hikmah Hassan, Zahirotul
JURNAL PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1035.831 KB) | DOI: 10.33964/jp.v23i3.67

Abstract

Proses penggilingan merupakan faktor yang sangat menentukan besarnya susut hasil maupun kualitas beras yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat rendemen dan mutu giling beras yang dihasilkan oleh beberapa unit penggilingan padi di Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan. Evaluasi dilakukan terhadap 51 sampel gabah kering (terdiri dari 2 varietas unggul, 14 lokal pasang surut, dan 5 lokal gunung/gogo) yang berasal dari 51 unit penggilingan padi yang ada di 11 kecamatan. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai rendemen Beras Pecah Kulit (BPK) dan Beras Giling (BG) rata-rata sebesar 73,88 persen dan 66,60 persen. Varietas lokal gogo/gunung memiliki rendemen BPK maupun BG tertinggi, masing-masing sebesar 76,07 dan 68,07 persen. Analisis mutu beras hasil penggilingan menunjukkan bahwa persentase beras kepala, beras patah, dan menir dari beras giling varietas unggul masing-masing adalah 58,10; 27,04; dan 10,14 persen. Persentase beras kepala, beras patah dan menir untuk beras giling varietaslokal pasang surut masing-masing adalah 66,96; 23,91; dan 8,32 persen. Sedangkan persentase beras kepala, beras patah dan menir untuk beras giling varietas lokal gogo/gunung masing-masing adalah 57,86; 26,64; dan 11,62 persen. Kadar air gabah rata-rata yaitu 13,74 persen untuk varietas unggul, 14,12 persen untuk lokal pasang surut, dan 13,34 persen untuk lokal gogo/gunung. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa semua perusahaan penggilingan dikategorikan dalam Penggilingan Padi Kecil (PPK), dengan kapasitas penggilingan rata-rata sebesar 0,47 ton per jam. Inovasi teknologi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan rendemen dan kualitas beras giling di wilayah ini dengan mengintroduksikan penggunaan mesin paddy separator dan mesin paddy cleaner. Selain itu, perbaikan mindset petani dan manajemen usaha yang baik perlu dilakukan melalui pelatihan, magang dan studi banding.Rice Milling is one of the factors that determines the post-harvest losses and the quality of the milled rice. This study is carried out in Kotabaru district of South Kalimantan province to assess 51 samples of milled rice (consists of two high yielding varieties, 14 local tidalswamp varieties, and 5 local upland varieties) taken from 51 units of the existing rice milling units in 11 sub-districts in Kotabaru district. The results show that the average yield of brown rice and milled rice are 73,88 and 66,60 percents, respectively. The local upland/mountain varieties have the highest brown rice and milled rice yield, which are 76,07 and 68,07 percents, respectively. Analysis on the quality of the milled rice produced from high yielding varieties is 58,10, 27,04, and 10,14 percents of head rice, broken rice and min, respectively. The quality of the milled rice produced from local tidal swamp varieties is 66,96 percents, 23,91 percents, 8,32 percents of head rice, broken rice and min, respectively. While the qualityof the milled rice produced from local upland varieties is 57,86, 26,64, 11,62 percents of head rice, broken rice and min, respectively. The average of the grain moisture content is 13,74 percents forhigh yielding varieties, 14,12 percents for local tidalswamp varieties, and 13,34 percents forlocal upland varieties. Theassessment on the existing rice milling unitshow thatall the existing rice milling companies are categorizedas smallscale ricemilling units (RMU), with a milling capacityof 0,47 tons per hour. These results suggest thattechnologicalinnovations mightbe introduced orimplementedto increase the level ofyieldandquality of milled riceandthe introduction of the use paddyseparator andpaddycleaner. In addition, improvements of farmer mindsetand business managementneed to be done through training, internships and study visit,
Aneka Tepung Berbasis Bahan Baku Lokal Sebagai Sumber Pangan Fungsional Dalam Upaya Meningkatkan Nilai Tambah Produk Pangan Lokal Hikmah Hassan, Zahirotul
JURNAL PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.421 KB) | DOI: 10.33964/jp.v23i1.54

Abstract

Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam rangka mendukung program percepatan diversifikasi pangan, sehingga sumber karbohidrat tidak lagi pada satu jenis makanan pokok yaitu beras. Salah satunya adalah dengan mulai dicanangkannya program One Day No Rice yang dimaksudkan untuk mendukung program percepatan penganekaragaman pola konsumsi pangan. Melalui program ini pengembangan pengolahan tepung-tepungan yang dibuat dari sumber pangan lokal atau lebih dikenal dengan program tepung nusantara dapat dipacu dan dioptimalkan. Salah satu strategi dalam rangka pengembangan pangan lokal ini dapat dilakukan dengan memperkenalkan aneka tepung nusantara sebagai sumber pangan fungsional. Dengan cara ini, tepung berbasis bahan baku lokal dapat digunakan sebagai pengganti makanan pokok seperti beras dan gandum. Makalah ini memberikan informasi mengenai potensi dan pengembangan industri aneka tepung berbasis bahan baku lokal sebagai makanan fungsional untuk meningkatkan nilai tambahnya. Dalam uraiannya akan dibahas beberapa bahan pangan lokal, komponen bioaktif apa saja yang terkandung, serta pengaruh positif apa saja yang diperoleh dari komponen bioaktif tersebut. Beberapa jenis bahan pangan lokal yang memilikipotensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku pengolahan tepung diantaranya adalah pisang (Musa paradisica), ubi alabio (Dioscorea alata L.), waluh (Cucurbita moschata), talas (Colocasia esculenta (L) Schoot), jagung (Zea mays), sagu (Cycas revoluta) dan sukun (Artocarpus communis). Berdasarkan kajian-kajian ilmiah yang dilakukan, berbagai jenis pangan lokal tersebut mempunyai fungsi-fungsi fisiologis tertentu yang bermanfaat bagi kesehatan.Several attempts have been made by Indonesian government in order to support the acceleration of food diversification program, so that the main staple food consumed as source of carbohydrates no longer depends on only one type of staple food, i.e. rice. One way to reach this goal is by proclaiming and implementing One Day No Rice program designed to support the acceleration of food consumption patterns diversification. It is expected that through this program the development of local based food products can be driven and optimized. One strategy for the development of local based food products may be done by introducing a variety of local based flour as a source of functional food. In this way, the local based flour can be used as substitute to the staple food such as rice and wheat. This review provides information on the potential and development of flours industries based on local-food products as functional foods to increase its added value. It outlines several types of local based foods, the bioactive components, and the positive effects derived from the bioactive components. Some local based products that have good prospects and great potential to be used as alternative food sources or as raw materials for the flour processing are banana (Musa paradisica), sweet potato var. alabio (Dioscorea alata L.), pumpkin (Cucurbita moschata), taro (Colocasia esculenta (L) Schoot), maize (Zea mays), sago (Cycas revoluta) and breadfruit (Artocarpus communis). These types of local foods have a certain physiological functions that are beneficial to health.