Yosef Antonius
Sekolah Tinggi Teologi Bethel The Way Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Teologis Pendekatan Gereja Pentakosta terhadap Yohanes 14:6 dan Implikasinya dalam Misi Keselamatan Martuaando Romei Hasibuan; Andreas Eko Nugroho; Yosef Antonius
Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52489/juteolog.v6i2.326

Abstract

Artikel ini menganalisis Yohanes 14:6 dalam perspektif teologis dan implikasinya terhadap misi keselamatan dengan fokus pada pendekatan Gereja Pentakosta di Indonesia. Fenomena perkembangan pluralisme agama, meningkatnya sensitivitas antar-iman, serta tantangan terhadap klaim kebenaran eksklusif menempatkan gereja pada posisi yang membutuhkan kejelasan teologis dan pendekatan pastoral yang relevan. Pernyataan Yesus sebagai “jalan, kebenaran, dan hidup” sering dipahami secara eksklusif sebagai dasar soteriologi Pentakosta, yang menegaskan keselamatan hanya melalui Kristus. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi bagaimana teologi Pentakosta menafsirkan Yohanes 14:6 secara eksegetis sekaligus merespons dinamika sosial-keagamaan dalam konteks Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan kajian pustaka, analisis eksegetis, dan penelusuran dokumen resmi serta praktik misi gereja Pentakosta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan Pentakosta tidak hanya menekankan eksklusivitas teologis, tetapi juga integrasi pengalaman rohani, peran Roh Kudus, praktik liturgis, dan kesaksian hidup sebagai wujud misi yang dialogis dan transformatif. Kesimpulannya, Yohanes 14:6 dipahami bukan sekadar klaim doktrinal yang kaku, melainkan panggilan misi kontekstual yang meneguhkan identitas iman, membangun relasi harmonis, serta menghadirkan keselamatan Kristus secara personal dan komunal dalam keberagaman masyarakat Indonesia.
Simon Kirene dan Teologi Empati: Kajian Pastoral tentang Solidaritas di Tengah Derita Budiman Siregar; Yosef Antonius; Kornelius Rulli Jonathans
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 10, No 2 (2025): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2025
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v10i2.386

Abstract

The story of Simon of Cyrene being compelled to carry Jesus’ cross (Luke 23:26) is often read as a peripheral narrative within the Passion account. However, from a pastoral theological perspective, Simon’s figure represents a profound act of empathy and an actualization of solidarity in suffering. This article aims to highlight the pastoral significance of Simon of Cyrene’s action as a paradigm of empathy in pastoral ministry. Through a pastoral hermeneutical approach and biblical narrative analysis, the study elaborates how Simon’s action reflects an active presence amid the suffering of others, even without prior preparation or willingness. This context is highly relevant for contemporary pastoral care, especially in accompanying individuals or communities experiencing trauma, crisis, or marginalization. The theology of empathy derived from Simon’s story challenges pastoral ministers to embody real solidarity—not merely through words of consolation, but through concrete involvement in bearing the burdens of others. The article also emphasizes the importance of pastoral readiness to become “contemporary Simons,” present not because of position or authority, but out of a heartfelt calling to compassionate accompaniment. Thus, the story of Simon of Cyrene serves as a reflective mirror for a humanistic, responsive, and transformative model of pastoral ministry amidst the realities of suffering in today’s world. AbstrakKisah Simon dari Kirene yang dipaksa untuk memikul salib Yesus (Lukas 23:26) sering kali dibaca sebagai narasi sampingan dalam sengsara Kristus. Namun, dari perspektif teologi pastoral, figur Simon justru merepresentasikan tindakan empatik yang mendalam dan aktualisasi solidaritas dalam penderitaan. Artikel ini bertujuan untuk mengangkat makna pastoral dari tindakan Simon Kirene sebagai paradigma empati dalam pelayanan pastoral. Melalui pendekatan hermeneutika pastoral dan telaah naratif biblika, kajian ini mengelaborasi bagaimana tindakan Simon mencerminkan kehadiran aktif di tengah penderitaan orang lain, sekalipun tanpa persiapan atau kerelaan awal. Konteks tersebut relevan bagi pelayanan pastoral masa kini, terutama dalam mendampingi individu atau komunitas yang mengalami trauma, krisis, atau marginalisasi. Teologi empati yang digali dari kisah Simon menantang para pelayan pastoral untuk menghadirkan solidaritas yang nyata, bukan hanya melalui kata-kata penghiburan, tetapi melalui keterlibatan konkret dalam memikul beban sesama. Artikel ini juga menyoroti pentingnya kesiapsediaan pastoral untuk menjadi "Simon-Simon masa kini" yang hadir bukan karena posisi, melainkan karena panggilan hati untuk berbela rasa. Dengan demikian, kisah Simon Kirene menjadi cermin reflektif bagi model pelayanan pastoral yang humanis, responsif, dan transformatif di tengah realitas penderitaan zaman ini.