Kornelius Rulli Jonathans
Sekolah Tinggi Teologi Bethel The Way Jakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisis Teologis Tiupan Sangkakala Keluaran 19:16 dalam Liturgi Gereja Pentakosta Kontemporer di Indonesia Kasmer Hutagalung; Kornelius Rulli Jonathans; Andreas Eko Nugroho
Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52489/juteolog.v6i2.303

Abstract

Maraknya penggunaan shofar (terompet) dalam ibadah Pentakosta kontemporer memunculkan kebutuhan untuk menelaah kembali landasan-landasan alkitabiah, teologis, dan liturgisnya. Di satu sisi, simbol ini diyakini memancarkan dimensi profetis yang memperkaya pengalaman ibadah; di sisi lain, simbol ini berpotensi menimbulkan penyimpangan seperti ritualisme, legalisme simbolis, dan bentuk-bentuk sinkretisme yang belum teruji. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk memberikan evaluasi akademis mengenai makna dan fungsi shofar, khususnya dalam konteks Keluaran 19:16 sebagai teks sentral mengenai teofani dan kehadiran Allah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fungsi teologis shofar dalam konteks teofani Sinai serta menganalisis implikasinya bagi praktik liturgi Pentakosta kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan teologis kualitatif, yang menggabungkan analisis teks Alkitab, tinjauan pustaka, interpretasi liturgi, dan wawancara terbatas dengan para praktisi yang menggunakan shofar dalam ibadah. Temuan-temuan ini menunjukkan tiga dimensi utama dalam Keluaran 19:16: teofani, sebagai tanda kehadiran Allah yang tak terkendali; perjanjian, sebagai panggilan menuju kekudusan; dan eklesiologis, sebagai unsur pembentuk yang membentuk respons spiritual jemaat. Dalam praktik Pentakosta kontemporer, shofar berfungsi sebagai simbol profetik tanpa memiliki kekuatan magis atau mistis apa pun secara intrinsik. Oleh karena itu, penggunaan shofar dapat memperkaya liturgi Pentakosta jika didasarkan pada pemahaman teologis yang kokoh dan dilindungi dari penyalahgunaan simbolis. Studi ini merekomendasikan pengembangan pedoman liturgi yang berakar pada hermeneutika teofanik, serta peningkatan pendidikan liturgi bagi para pelayan ibadah.
Peran Spiritualitas Pentakosta dengan Pertumbuhan Iman dan Militansi Pewartaan Injil Pada Jemaat Di GBI Cisarua Effendy Matondang S; Andreas Eko Nugroho; Kornelius Rulli Jonathans
Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52489/juteolog.v6i2.325

Abstract

Jemaat GBI Cisarua menunjukkan dinamika rohani yang beragam. Jemaat memahami bahwa spiritualitas Pentakosta menjadi sebuah kekuatan rohani yang menandai kebangunan rohani besar dalam sejarah gereja modern. Pengalaman pribadi dengan Roh Kudus, manifestasi karunia-karunia rohani serta kehidupan yang dipenuhi dengan kuasa dan ketaatan kepada Allah. Namun mereka juga menyadari banyaknya tantangan masa kini yang berdampak munculnya sikap kompromi, apatisme rohani, ketidakmampuan membedakan yang benar dengan sesuatu yang ‘seolah’ benar. Di samping itu permasalahan lain adalah rendahnya partisipasi jemaat dalam melaksanakan pewartaan Injil. Anggapan bahwa pewartaan menjdi tugas pemimpin dan pelayan menjadi alasan jemaat engan terlibat. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif yang memotret fenomena yang terjadi pada jemaat yang berkaitan dengan topi peneliian. Selain itu penelitian ini juga melibatkan analisis berbagai sumber yang relevan dengan tema penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pertumbuhan iman yang signifikan yang ditunjukkan melalui perubahan sikap dan pembentukkan karekter. Selain itu juga kesadaran jemaat menjalankan tugas mulia pewartaan Injil dalam praksis kehidupan.
Simon Kirene dan Teologi Empati: Kajian Pastoral tentang Solidaritas di Tengah Derita Budiman Siregar; Yosef Antonius; Kornelius Rulli Jonathans
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 10, No 2 (2025): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2025
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v10i2.386

Abstract

The story of Simon of Cyrene being compelled to carry Jesus’ cross (Luke 23:26) is often read as a peripheral narrative within the Passion account. However, from a pastoral theological perspective, Simon’s figure represents a profound act of empathy and an actualization of solidarity in suffering. This article aims to highlight the pastoral significance of Simon of Cyrene’s action as a paradigm of empathy in pastoral ministry. Through a pastoral hermeneutical approach and biblical narrative analysis, the study elaborates how Simon’s action reflects an active presence amid the suffering of others, even without prior preparation or willingness. This context is highly relevant for contemporary pastoral care, especially in accompanying individuals or communities experiencing trauma, crisis, or marginalization. The theology of empathy derived from Simon’s story challenges pastoral ministers to embody real solidarity—not merely through words of consolation, but through concrete involvement in bearing the burdens of others. The article also emphasizes the importance of pastoral readiness to become “contemporary Simons,” present not because of position or authority, but out of a heartfelt calling to compassionate accompaniment. Thus, the story of Simon of Cyrene serves as a reflective mirror for a humanistic, responsive, and transformative model of pastoral ministry amidst the realities of suffering in today’s world. AbstrakKisah Simon dari Kirene yang dipaksa untuk memikul salib Yesus (Lukas 23:26) sering kali dibaca sebagai narasi sampingan dalam sengsara Kristus. Namun, dari perspektif teologi pastoral, figur Simon justru merepresentasikan tindakan empatik yang mendalam dan aktualisasi solidaritas dalam penderitaan. Artikel ini bertujuan untuk mengangkat makna pastoral dari tindakan Simon Kirene sebagai paradigma empati dalam pelayanan pastoral. Melalui pendekatan hermeneutika pastoral dan telaah naratif biblika, kajian ini mengelaborasi bagaimana tindakan Simon mencerminkan kehadiran aktif di tengah penderitaan orang lain, sekalipun tanpa persiapan atau kerelaan awal. Konteks tersebut relevan bagi pelayanan pastoral masa kini, terutama dalam mendampingi individu atau komunitas yang mengalami trauma, krisis, atau marginalisasi. Teologi empati yang digali dari kisah Simon menantang para pelayan pastoral untuk menghadirkan solidaritas yang nyata, bukan hanya melalui kata-kata penghiburan, tetapi melalui keterlibatan konkret dalam memikul beban sesama. Artikel ini juga menyoroti pentingnya kesiapsediaan pastoral untuk menjadi "Simon-Simon masa kini" yang hadir bukan karena posisi, melainkan karena panggilan hati untuk berbela rasa. Dengan demikian, kisah Simon Kirene menjadi cermin reflektif bagi model pelayanan pastoral yang humanis, responsif, dan transformatif di tengah realitas penderitaan zaman ini.