Dzulfikli Dzulfikli
Universitas Muhammadiyah Surabaya

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Resonansi dukungan keluarga: Studi fenomenologis tentang peran attachment orang tua dalam mereduksi distres psikologis pada remaja berisiko. Marini; Dzulfikli Dzulfikli; Andini Dwi Arumsari; Ummi Masrufah Maulidiyah
SUKMA : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 1 (2026): Volume 7 No 1 Juni 2026 (In Progress)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan masalah kesehatan mental remaja di era digital sering kali berakar pada rapuhnya kualitas keterikatan dalam keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran kepekaan orang tua (parental sensitivity) dalam mereduksi beban psikologis pada remaja yang mengalami krisis emosional dan sosial. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap remaja putri dan orang tua mereka. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling yang mencakup dua tipologi keluarga : keluarga dengan keterikatan aman namun terpisah jarak fisik (perantau), dan keluarga dengan riwayat pengabaian emosional (disorganized/avoidant). Hasil penelitian mengungkap dua temuan utama. Pertama, pada remaja perantau, beban psikologis dipicu oleh kesepian kronis dan kegagalan orang tua dalam mendeteksi sinyal distres digital, yang berujung pada kerentanan terhadap eksploitasi siber. Kedua, pada remaja dari keluarga disfungsional, perilaku berisiko seperti konsumsi alkohol dan seks bebas digunakan sebagai strategi koping maladaptif akibat ketiadaan basis aman (secure base) di rumah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kepekaan emosional orang tua, baik melalui kehadiran digital maupun validasi afektif, merupakan faktor protektif tunggal yang paling signifikan dalam memitigasi distres remaja. Implikasi klinis dari studi ini menekankan perlunya pelatihan sensitivitas bagi orang tua untuk memulihkan fungsi keterikatan sebagai fondasi regulasi emosi remaja.