Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Freshness Evaluation of Minced Fish (Snakehead, Spotted Mackerel, Snapper, and Sardine) Sold at a Traditional Market in Palembang Using Chemical, Physical, Microbiological, and Sensory Parameters Riya Liuhartana Nasyiruddin Fuhrmann; Rih Laksmi Utpalasari; Lia Perwita Sari; Zhulian Hikmah Hasibuan; Widyawati; Melia Oktariani; Sohail Khan
International Journal of Food Sciences and Nutrition Innovations Vol. 1 No. 2 (2025): International Journal of Food Sciences and Nutrition Innovations (December)
Publisher : CV. Media Inti Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58723/ijfsni.v1i2.138

Abstract

Background: Minced fish is widely marketed in traditional markets due to its practical use as raw material for various processed fish products. However, mechanical mincing under inadequate hygiene and cold-chain management may lead to an increase in Total Plate Count (TPC), thereby accelerating quality deterioration and increasing potential food safety risks.Objective: This study evaluated the freshness and quality of minced fish sold in a traditional market using integrated chemical, physical, microbiological, and sensory indicators.Methods: A purposive sampling approach was applied to four types of minced fish sold at Perumnas Sako Kenten Market, Palembang: snakehead (Channa striata, S1), spotted mackerel (Scomberomorus guttatus, S2), snapper (Lutjanus campechanus, S3), and sardine (Sardinella lemuru, S4). Analyses included proximate composition, pH, Total Volatile Base Nitrogen (TVB-N), Trimethylamine Nitrogen (TMA-N), Total Plate Count (TPC), descriptive sensory scoring, and hedonic evaluation. Results were interpreted descriptively and compared with Indonesian National Standards (SNI) and relevant literature.Results: All samples exhibited TPC values exceeding the SNI limit (1×10⁶ CFU/g), ranging from 1.6×10⁷ to 2.8×10⁷ CFU/g. TVB-N values remained low (6.0–7.6 mgN/100 g), while elevated TMA-N levels were observed in spotted mackerel and sardine, indicating reduced freshness in pelagic species. Sensory evaluation showed good acceptance for snakehead, spotted mackerel, and snapper, whereas sardine received neutral to low scores, particularly for aroma and texture.Conclusion: The quality of minced fish varied among species, while microbial contamination consistently exceeded safety limits. Sensory evaluation remains important but insufficient alone; therefore, integrated freshness assessment supported by improved hygiene and cold-chain management is essential.
Edukasi Pengelolaan Sampah Pesisir Berbasis Sekolah dan Komunitas di Makarti Jaya, Banyuasin Ahmad Sundoko; Leni Maryani; Zhulian Hikmah Hasibuan; Ragil Susilowati; Tiara Santeri; Helfa Septinar
Kemas Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026): Kemas Journal - Januari - Juni
Publisher : Universitas PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/z9hkhw29

Abstract

 Pencemaran sampah pesisir merupakan permasalahan lingkungan yang semakin meningkat dan berdampak terhadap ekosistem serta kesehatan masyarakat, khususnya di wilayah hilir seperti Makarti Jaya, Kabupaten Banyuasin. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran lingkungan melalui Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berbasis edukasi pengelolaan sampah pesisir yang melibatkan siswa dan guru SMA Negeri 1 Makarti Jaya. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif melalui ceramah, penyuluhan, dan demonstrasi yang mencakup materi identifikasi jenis dan sumber sampah, dampak pencemaran terhadap ekosistem mangrove dan perikanan tradisional, inovasi teknologi tepat guna, serta strategi pengendalian dan model integratif pengelolaan sampah berbasis ekologi, ekonomi, dan sosial budaya. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan kesadaran peserta terhadap bahaya pencemaran sampah, termasuk risiko mikroplastik terhadap kesehatan, serta pentingnya penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Keterlibatan aktif peserta dalam diskusi menunjukkan peningkatan partisipasi dalam upaya pelestarian lingkungan. Dengan demikian, pendekatan edukatif berbasis sekolah dan komunitas dinilai efektif dalam meningkatkan kapasitas pengelolaan lingkungan pesisir dan berpotensi menjadi model yang berkelanjutan serta dapat direplikasi di wilayah lain dengan karakteristik serupa.