Yulidar
Politeknik Arutala Johana Hendarto

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penerapan Metode Deep Pharyngeal Neuromuscular Stimulation (DPNS) Terhadap Klien Disfagia Usia 64 Tahun Tuti Kurniasih; Deni Alamsyah; Yulidar; Dias Alfian
Jurnal Terapi Wicara Vol 4 No 1 (2026): Jurnal Terapi Wicara (JAWARA)
Publisher : Politeknik Arutala Johana Hendarto [d.h. Akademi Terapi Wicara]

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59898/jawara.v4i1.65

Abstract

Disfagia merupakan sindrom pada geriatri mempengaruhi 10% hingga 33% orang dewasa yang lebih tua, umumnya terlihat pada orang dewasa yang lebih tua yang pernah mengalami stroke atau penyakit neurogeneratif seperti penyakit Alzheimer atau Parkinson. Gangguan pada disfagia dapat menyebabkan malnutrisi terutama juga sebagai konsekuensi apabila NGT digunakan secara terus-menerus akan menimbulkan permasalahan lain. Temuan menunjukkan NGT dapat berdampak negatif pada fungsi menelan pada satu atau lebih parameter menelan, dengan tahap faring  tampak paling terkena dampaknya. Latar Belakang: dalam penelitian ini adalah klien mengalami kondisi stroke, dua bulan kemudian klien mengalami kesulitan menelan sehingga klien menggunakan NGT (Nasogastric Tube) untuk memenuhi makan sehari-hari. Agar klien tidak tergantung dengan NGT maka penulis perlu melakukan latihan menelan dengan metode tertentu agar mampu menelan melalui oral. Tujuan: Dalam Penulisan ini adalah mengetahui bagaimana penerapan Metode Deep Pharyngeal Neuromuscular terhadap klien disfagia usia 64 tahun terhadap kemampuan menelan melalui tahapan pada oral dengan kondisi stroke. Metode: metode yang digunakan dalam penulisan ini menggunakan studi kasus deskriptif yaitu peneliti menguraikan secara terperinci bagaimana terapi yang dilakukan terhadap satu atau dua orang klien. Dalam penelitian ini hanya menggunakan satu klien dengan kondisi stroke usia 64 tahun. Metode penelitian kualitatif berupaya menyajikan gambaran yang teratur, sesuai kenyataan, dan mendalam terkait suatu fenomena individu dalam  kondisi tertentu. Hasil: Adanya wabah COVID-19 penelitian ini dihentikan, sehingga semula direncanakan pertemuan sebanyak 10-11 kali pertemuan, hanya dilakukan 4 kali pertemuan. Klien hanya mampu meningkatkan repetisi menelan saliva semula 3 kali menjadi 5 kali repetisi.
Intervensi penguatan otot bibir dan pipi untuk meningkatkan efisiensi fase oral pada pasien stroke berulang: Sebuah studi kasus Pipit Puspitasari; Yulidar; Agustina; Nurul Tirta Kusuma
Jurnal Terapi Wicara Vol 4 No 1 (2026): Jurnal Terapi Wicara (JAWARA)
Publisher : Politeknik Arutala Johana Hendarto [d.h. Akademi Terapi Wicara]

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59898/jawara.v4i1.66

Abstract

Latar Belakang: Disfagia Post-Stroke (DPS) sering bermanifestasi sebagai disfungsi orofasial berupa kelemahan otot bibir dan pipi yang memicu drooling serta inefisiensi fase oral. Meskipun prevalensi globalnya tinggi, intervensi spesifik yang mengisolasi penguatan otot perioral masih sangat terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas latihan motorik otot bibir (orbicularis oris) dan pipi (buccinator) dalam meningkatkan fungsi pengunyahan, kapasitas pengendalian anterior leaking/spillage, serta menurunkan derajat drooling pada subjek DPS. Metode: Desain pra-eksperimental single-subject murni (N=1) diterapkan pada subjek laki-laki berusia 63 tahun dengan stroke berulang menggunakan data klinis tahun 2019. Instrumen Penilaian Oromotor dan Kontrol Saliva (POKS) modifikasi yang diselaraskan dengan prinsip batere tes TEDIVA digunakan untuk menilai performa klinis non-radiologis menggunakan media bolus standar IDDSI Level 5. Intervensi dilakukan intensif sebanyak 10 pertemuan. Hasil: Terjadi peningkatan skor kumulatif POKS secara signifikan dari skor 0 (disfungsi total) menjadi skor 6 (disfungsi ringan). Pasca-intervensi, subjek mampu melakukan pengunyahan fungsional (3–5 siklus) dan meningkatkan frekuensi transisi labial dari 3 kali menjadi 7 kali dalam 15 detik. Kendati demikian, rembesan saliva pada suapan ketiga tetap muncul sebagai indikator objektif adanya kelelahan otot (muscle fatigue) oromotor akibat penurunan daya tahan (muscle endurance). Kesimpulan: Latihan terisolasi otot bibir dan pipi menunjukkan respon positif dalam memulihkan unit motorik fasial, meningkatkan koordinasi pengunyahan, serta mengurangi drooling secara klinis. Rekomendasi intervensi berikutnya perlu mengintegrasikan latihan ketahanan progresif untuk memperpanjang ambang lelah otot perioral