Nurul Tirta Kusuma
Politeknik Arutala Johana Hendarto

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Intervensi penguatan otot bibir dan pipi untuk meningkatkan efisiensi fase oral pada pasien stroke berulang: Sebuah studi kasus Pipit Puspitasari; Yulidar; Agustina; Nurul Tirta Kusuma
Jurnal Terapi Wicara Vol 4 No 1 (2026): Jurnal Terapi Wicara (JAWARA)
Publisher : Politeknik Arutala Johana Hendarto [d.h. Akademi Terapi Wicara]

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59898/jawara.v4i1.66

Abstract

Latar Belakang: Disfagia Post-Stroke (DPS) sering bermanifestasi sebagai disfungsi orofasial berupa kelemahan otot bibir dan pipi yang memicu drooling serta inefisiensi fase oral. Meskipun prevalensi globalnya tinggi, intervensi spesifik yang mengisolasi penguatan otot perioral masih sangat terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas latihan motorik otot bibir (orbicularis oris) dan pipi (buccinator) dalam meningkatkan fungsi pengunyahan, kapasitas pengendalian anterior leaking/spillage, serta menurunkan derajat drooling pada subjek DPS. Metode: Desain pra-eksperimental single-subject murni (N=1) diterapkan pada subjek laki-laki berusia 63 tahun dengan stroke berulang menggunakan data klinis tahun 2019. Instrumen Penilaian Oromotor dan Kontrol Saliva (POKS) modifikasi yang diselaraskan dengan prinsip batere tes TEDIVA digunakan untuk menilai performa klinis non-radiologis menggunakan media bolus standar IDDSI Level 5. Intervensi dilakukan intensif sebanyak 10 pertemuan. Hasil: Terjadi peningkatan skor kumulatif POKS secara signifikan dari skor 0 (disfungsi total) menjadi skor 6 (disfungsi ringan). Pasca-intervensi, subjek mampu melakukan pengunyahan fungsional (3–5 siklus) dan meningkatkan frekuensi transisi labial dari 3 kali menjadi 7 kali dalam 15 detik. Kendati demikian, rembesan saliva pada suapan ketiga tetap muncul sebagai indikator objektif adanya kelelahan otot (muscle fatigue) oromotor akibat penurunan daya tahan (muscle endurance). Kesimpulan: Latihan terisolasi otot bibir dan pipi menunjukkan respon positif dalam memulihkan unit motorik fasial, meningkatkan koordinasi pengunyahan, serta mengurangi drooling secara klinis. Rekomendasi intervensi berikutnya perlu mengintegrasikan latihan ketahanan progresif untuk memperpanjang ambang lelah otot perioral