Latar belakang: Kelelahan kerja (burnout) merupakan masalah kesehatan kerja yang berdampak pada produktivitas, kualitas pelayanan, dan kesejahteraan pekerja. Di Indonesia, prevalensi kelelahan kerja dilaporkan mencapai 63,78%. Tingginya tuntutan pekerjaan, khususnya pada pelaksanaan program pemerintah Makanan Bergizi Gratis (MBG), berpotensi mengganggu keseimbangan kehidupan kerja (work life balance/WLB) dan meningkatkan risiko kelelahan kerja pada karyawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara work life balance dan kelelahan kerja pada karyawan SPPG. Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain potong lintang (cross-sectional). Sebanyak 47 karyawan SPPG Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Copenhagen Burnout Inventory (CBI) dan Work life balance Scale (WLBS). Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Fisher’s Exact Test dengan tingkat kemaknaan statistik 0,05. Hasil: Tidak terdapat responden dengan tingkat WLB kategori tinggi maupun sangat tinggi. Sebagian besar responden berada pada kategori WLB sangat rendah (46,8%) dan rendah (27,7%). Tingkat kelelahan kerja menunjukkan kondisi yang sangat tinggi, dengan 87,2% responden berada pada kategori sangat tinggi dan 12,8% pada kategori tinggi. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara work life balance dan kelelahan kerja (p = 0,164). Kesimpulan: Kelelahan kerja pada karyawan SPPG tergolong sangat tinggi, namun work life balance tidak berhubungan secara signifikan dengan kelelahan kerja. Upaya skrining dan edukasi kesehatan kerja tetap diperlukan sebagai langkah preventif untuk mencegah kelelahan kerja dan meningkatkan kesejahteraan pekerja.