Habibul Abdul Haris
STKIP Muhammadiyah Kalabahi

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER KEWARGANEGARAAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL PADA PESERTA DIDIK DI UPTD SD NEGERI MORU II KABUPATEN ALOR Sudarto Lukman Lema; Murni Murni; Didemus Dara Bali; Habibul Abdul Haris; Indrawati Bura
Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar (JIPDAS) Vol 6 No 3 (2026): Vol. 6 No. 3 Juni - Agustus 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Bahasa Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37081/jipdas.v6i3.4815

Abstract

Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di jenjang Sekolah Dasar memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan identitas nasional. Namun, arus globalisasi dan keterbukaan informasi digital memicu degradasi moral, seperti maraknya tawuran pelajar dan memudarnya nilai kesopanan. Di sisi lain, pembelajaran PKn di sekolah sering kali bersifat formalistik dan kurang mengontekstualisasikan materi dengan nilai-nilai lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penguatan pendidikan karakter kewarganegaraan melalui integrasi kearifan lokal Alor di UPTD SD Negeri Moru II. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan kepala sekolah, guru, dan peserta didik, serta studi dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga nilai kearifan lokal utama Alor yang diintegrasikan sebagai "ruh" pembelajaran PKn, yaitu: (1) Lego-lego (simbol persatuan dan kesetaraan/Sila ke-3), (2) Hela Rotan/Belung (budaya gotong royong, asas timbal balik, dan solidaritas sosial), dan (3) Tara Miti Tominuku (falsafah persaudaraan dalam perbedaan). Strategi penguatan dilakukan secara komprehensif melalui intrakurikuler, keteladanan (modeling), penciptaan budaya sekolah (culture building), metode pembelajaran aktif (Project-Based Learning dan Collaborative Learning), kegiatan ekstrakurikuler, serta evaluasi otentik. Integrasi ini memberikan dampak nyata berupa peningkatan sikap toleransi antar peserta didik, penguatan inisiatif gotong royong, serta internalisasi tata krama dan kesantunan dalam berkomunikasi. Implementasi kearifan lokal Alor secara kontekstual terbukti efektif mentransformasikan pengetahuan moral (moral knowing) menjadi tindakan nyata (moral action) dalam kehidupan sehari-hari. Model ini berhasil menyelaraskan nilai-nilai universal kewarganegaraan dengan identitas budaya lokal (global thinking, local acting) sekaligus meminimalisir perilaku negatif seperti perundungan di lingkungan sekolah.