Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dari Stereotip Menuju Harmoni: Film TAPENGSOR sebagai Jembatan Pemahaman Budaya Madura Siti Sa’adah; Faridatul Habibah; Raden Khaeru Ahmadi; Bondan Dewabrata; Supriadi Supriadi; R. Raditya Wira Fabri
Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Volume 4 Nomor 1 February - May 2
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/pchukumsosial.v4i1.322

Abstract

Stereotip mengenai Madura sebagai wilayah yang keras, identik dengan carok, dan penuh konflik sosial masih berkembang di masyarakat. Pandangan tersebut sebagian besar terbentuk melalui cerita turun-temurun dan representasi media, bukan berdasarkan pengalaman langsung terhadap kehidupan sosial masyarakat Madura. Kondisi ini menyebabkan munculnya prasangka budaya yang kurang mencerminkan realitas sosial masyarakat Madura yang sebenarnya memiliki karakter religius, hangat, terbuka, dan menjunjung tinggi solidaritas sosial. Oleh karena itu, diperlukan media edukasi budaya yang mampu menghadirkan representasi budaya Madura secara lebih humanis dan kontekstual. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memproduksi film TAPENGSOR sebagai media edukasi budaya lokal berbasis audio visual. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif deskriptif kualitatif melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dokumentasi budaya, dan sosialisasi film kepada masyarakat. Film TAPENGSOR mengangkat perjalanan seorang pendatang yang awalnya memiliki prasangka terhadap Madura, kemudian mengalami perubahan perspektif setelah berinteraksi langsung dengan masyarakat Madura melalui kehidupan sehari-hari, suasana religius masjid, Keraton Sumenep, hingga budaya musik Tong-tong sebagai ruang sosial masyarakat. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa media film mampu menjadi sarana edukasi budaya yang efektif dalam membangun pemahaman masyarakat terhadap budaya Madura secara lebih positif dan humanis. Film ini juga mampu meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya pelestarian budaya lokal melalui media digital kreatif. Selain berfungsi sebagai media edukasi, film TAPENGSOR juga menjadi media dokumentasi budaya dan representasi sosial budaya Madura yang lebih inklusif dan komunikatif. Dengan demikian, film budaya berbasis digital dapat menjadi strategi pelestarian budaya lokal sekaligus media komunikasi antarbudaya di era modern.
Pelatihan Dasar Master of Ceremony sebagai Upaya Peningkatan Kepercayaan Diri Anak Panti Asuhan Muhammadiyah Sumenep Ridy Sulhana; R. Raditya Wira Fabri; Annisa Syakina; Akis Jasuli; Ria Natalia
Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan Vol 5, No 6 (2025): JPM: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan
Publisher : Penerbit Widina, Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jpm.v5i6.2603

Abstract

Public communication skills and self-confidence are an important part of developing soft skills in adolescents, but remain a challenge for children in orphanages who have limited opportunities to appear in public spaces. Based on these conditions, this community service activity aims to increase the self-confidence of children at the Muhammadiyah Sumenep Orphanage through basic Master of Ceremony (MC) training. This activity was carried out using a qualitative descriptive approach through practice-based training attended by approximately two high school students from the Muhammadiyah Sumenep Orphanage. Three participants were selected as the main subjects for practice in order to obtain a more in-depth observational picture of changes in communication behavior. The results showed that MC training was able to encourage the participants' courage to perform, improve their understanding of the structure of hosting an event, and improve their mastery of intonation and body language, although some participants still needed further training to achieve consistent performance. These findings are descriptive and reflective and show that MC training has the potential to be a strategy for strengthening the confidence of children in orphanages in the context of community service.ABSTRAKKeterampilan komunikasi publik dan kepercayaan diri merupakan bagian penting dari pengembangan soft skill anak remaja, namun masih menjadi tantangan bagi anak panti asuhan yang memiliki keterbatasan kesempatan untuk tampil di ruang publik. Berdasarkan kondisi tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri anak Panti Asuhan Muhammadiyah Sumenep melalui kegiatan pelatihan dasar Master of Ceremony (MC). Kegiatan ini dilaksanakan dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui pelatihan berbasis praktik yang diikuti oleh sekitar 2 anak Panti Asuhan Muhammmadiyah Sumenep tingkat SMA. Tiga peserta dipilih sebagai subjek praktik utama untuk memperoleh gambaran observasi yang lebih mendalam terhadap perubahan perilaku komunikasi. Hasil menunjukkan bahwa pelatihan MC mampu mendorong keberanian tampil peserta, meningkatkan pemahaman terhadap struktur membawakan acara, serta memperbaiki penguasaan intonasi dan bahasa tubuh, walaupun sebagian peserta masih memerlukan latihan lanjutan untuk mencapai konsistensi performa. Temuan ini bersifat deskriptif dan reflektif dan menunjukkan bahwa pelatihan MC dapat berpotensi menjadi strategi penguatan kepercayaan diri anak panti asuhan dalam konteks pengabdian kepada masyarakat.