Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Optimalisasi Blue Economy Melalui Ekowisata Mangrove Dalam Mendukung Keberlanjutan Ekonomi di Kabupaten Sumenep Akis Jasuli; Bondan Dewabrata; Siti Sa'adah; Lailiy Illahi; R. Raditya Fabri; Annisa Syakina; Rosnindar Rahardjo
Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2025): June
Publisher : Penerbit Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53697/iso.v5i2.2781

Abstract

Penelitian ini meneliti peran sektor ekonomi biru dalam memperkuat ketahanan ekonomi di wilayah pesisir dan laut. Melalui analisis regresi, ditemukan bahwa variabel ekonomi biru memiliki koefisien positif, menunjukkan kontribusi signifikan terhadap ketahanan ekonomi. Hasil analisis menunjukkan bahwa peningkatan satu satuan dalam ekonomi biru dapat meningkatkan ketahanan ekonomi sebesar 19,5%, dengan variabel lainnya konstan. Nilai R² sebesar 0,350 menunjukkan bahwa 63,50% variasi dalam ketahanan ekonomi dapat dijelaskan oleh ekonomi biru, sementara 36,50% lainnya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti kebijakan fiskal dan moneter, kondisi politik dan sosial, perkembangan teknologi, serta kondisi eksternal seperti perubahan iklim dan dinamika ekonomi. Pengujian regresi linier sederhana memperlihatkan bahwa variabel ekonomi biru memiliki nilai signifikan sebesar 0,000, yang menunjukkan pengaruh positif dan signifikan terhadap ketahanan ekonomi. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan sektor ekonomi biru untuk mendukung ketahanan ekonomi yang berkelanjutan, sambil mempertimbangkan berbagai faktor lain yang juga berpengaruh.
Dari Stereotip Menuju Harmoni: Film TAPENGSOR sebagai Jembatan Pemahaman Budaya Madura Siti Sa’adah; Faridatul Habibah; Raden Khaeru Ahmadi; Bondan Dewabrata; Supriadi Supriadi; R. Raditya Wira Fabri
Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Volume 4 Nomor 1 February - May 2
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/pchukumsosial.v4i1.322

Abstract

Stereotip mengenai Madura sebagai wilayah yang keras, identik dengan carok, dan penuh konflik sosial masih berkembang di masyarakat. Pandangan tersebut sebagian besar terbentuk melalui cerita turun-temurun dan representasi media, bukan berdasarkan pengalaman langsung terhadap kehidupan sosial masyarakat Madura. Kondisi ini menyebabkan munculnya prasangka budaya yang kurang mencerminkan realitas sosial masyarakat Madura yang sebenarnya memiliki karakter religius, hangat, terbuka, dan menjunjung tinggi solidaritas sosial. Oleh karena itu, diperlukan media edukasi budaya yang mampu menghadirkan representasi budaya Madura secara lebih humanis dan kontekstual. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memproduksi film TAPENGSOR sebagai media edukasi budaya lokal berbasis audio visual. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif deskriptif kualitatif melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dokumentasi budaya, dan sosialisasi film kepada masyarakat. Film TAPENGSOR mengangkat perjalanan seorang pendatang yang awalnya memiliki prasangka terhadap Madura, kemudian mengalami perubahan perspektif setelah berinteraksi langsung dengan masyarakat Madura melalui kehidupan sehari-hari, suasana religius masjid, Keraton Sumenep, hingga budaya musik Tong-tong sebagai ruang sosial masyarakat. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa media film mampu menjadi sarana edukasi budaya yang efektif dalam membangun pemahaman masyarakat terhadap budaya Madura secara lebih positif dan humanis. Film ini juga mampu meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya pelestarian budaya lokal melalui media digital kreatif. Selain berfungsi sebagai media edukasi, film TAPENGSOR juga menjadi media dokumentasi budaya dan representasi sosial budaya Madura yang lebih inklusif dan komunikatif. Dengan demikian, film budaya berbasis digital dapat menjadi strategi pelestarian budaya lokal sekaligus media komunikasi antarbudaya di era modern.