Cahyo Muliawan
Universitas Islam Negeri Palangka Raya

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

HAK REPRODUKSI DAN SEKSUAL PEREMPUAN DALAM HUKUM ISLAM: ANALISIS MAQĀṢID AL-SYARĪ‘AH TERHADAP RELASI SUAMI-ISTRI Cahyo Muliawan; Euis Nurlaelawati; Normuslim; Hamdanah
SULTAN ADAM: Jurnal Hukum dan Sosial Vol 4 No 1 (2026): Januari-Juni 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/sultan.v4i1.2001

Abstract

Artikel ini bertujuan menganalisis hak reproduksi dan seksual perempuan dalam perspektif hukum Islam dengan menggunakan pendekatan maqāṣid al-syarī‘ah sebagai kerangka analisis. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif-deskriptif. Data diperoleh dari Al-Qur’an, hadis, kitab-kitab fikih klasik, serta literatur kontemporer yang membahas hak reproduksi, gender, dan maqāṣid al-syarī‘ah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa maqāṣid al-syarī‘ah memberikan landasan normatif yang kuat bagi perlindungan hak reproduksi dan seksual perempuan. Prinsip hifẓ al-nafs (perlindungan jiwa), hifẓ al-nasl (perlindungan keturunan), hifẓ al-‘aql (perlindungan akal), hifẓ al-dīn (perlindungan agama), dan hifẓ al-māl (perlindungan harta) mengandung nilai-nilai kemaslahatan yang menempatkan perempuan sebagai subjek yang memiliki hak atas kesehatan reproduksi, persetujuan dalam hubungan seksual, perencanaan keluarga, serta perlindungan dari kekerasan dalam rumah tangga. Relasi suami-istri dalam Islam idealnya dibangun atas prinsip mu‘āsyarah bi al-ma‘rūf, keadilan, kesalingan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Oleh karena itu, interpretasi hukum Islam yang berorientasi pada maqāṣid al-syarī‘ah dapat menjadi dasar untuk memperkuat pemenuhan hak reproduksi dan seksual perempuan dalam kehidupan keluarga Muslim. Penelitian ini menegaskan bahwa perlindungan terhadap hak-hak tersebut sejalan dengan tujuan utama syariat dalam mewujudkan kemaslahatan dan keadilan.
INTEGRASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DENGAN NILAI-NILAI PLURALISME DAN MULTIKULTURALISME DALAM MEMBANGUN MODERASI BERAGAMA Cahyo Muliawan; Hamdanah; Normuslim
SULTAN ADAM: Jurnal Hukum dan Sosial Vol 4 No 2 (2026): Juli-Desember 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/sultan.v4i2.2014

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi nilai-nilai pluralisme dan multikulturalisme dalam Pendidikan Agama Islam serta kontribusinya dalam membangun moderasi beragama. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan mengkaji berbagai literatur, jurnal ilmiah, buku, dan dokumen yang relevan dengan Pendidikan Agama Islam, pluralisme, multikulturalisme, dan moderasi beragama. Hasil kajian menunjukkan bahwa nilai pluralisme dan multikulturalisme memiliki landasan yang kuat dalam ajaran Islam, baik yang bersumber dari Al-Qur’an, hadis, maupun praktik kehidupan Nabi Muhammad saw. Integrasi nilai-nilai tersebut dapat dilakukan melalui pengembangan kurikulum, penerapan metode pembelajaran yang dialogis dan partisipatif, serta pembentukan budaya sekolah yang inklusif dan menghargai keberagaman. Implementasi Pendidikan Agama Islam yang terintegrasi dengan nilai pluralisme dan multikulturalisme mampu menumbuhkan sikap toleran, humanis, demokratis, dan anti kekerasan pada peserta didik. Selain itu, pendekatan ini berkontribusi dalam memperkuat moderasi beragama sehingga peserta didik mampu memahami dan mengamalkan ajaran agama secara seimbang, menghargai perbedaan, serta menjaga keharmonisan kehidupan sosial. Dengan demikian, integrasi Pendidikan Agama Islam dengan nilai pluralisme dan multikulturalisme menjadi strategi penting dalam membangun generasi yang moderat, inklusif, dan berkomitmen terhadap persatuan bangsa di tengah masyarakat multikultural.
Perbandingan Epistemologi Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd: Antara Intuisi, Rasio, dan Empiris Cahyo Muliawan; Normuslim
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1538

Abstract

Kajian terhadap epistemologi Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd menunjukkan bahwa tradisi pemikiran Islam klasik memiliki kekayaan konseptual yang luas dalam memahami proses, sumber, dan tujuan pengetahuan. Perbedaan pendekatan ketiga tokoh tersebut tidak menunjukkan pertentangan mutlak, melainkan menegaskan keberagaman cara memahami realitas dan kebenaran. Al-Ghazali menawarkan epistemologi integratif yang menempatkan indera, akal, dan hati sebagai instrumen pengetahuan, dengan puncaknya berupa intuisi spiritual (ilmu laduni), sehingga pencarian kebenaran melibatkan dimensi rasional sekaligus batiniah. Ibnu Sina mengembangkan epistemologi rasional-intuisionistik dengan teori hierarki akal, menekankan peran akal dalam memahami realitas sekaligus mengakui intuisi intelektual sebagai pencapaian kognitif tertinggi, menjembatani filsafat Aristoteles dan neoplatonisme dalam konteks Islam. Sementara Ibnu Rusyd menghadirkan pendekatan rasional-empiris yang sistematis, menegaskan bahwa seluruh pengetahuan berasal dari pengalaman inderawi dan diolah melalui mekanisme abstraksi akal, serta menolak klaim pengetahuan intuitif mistis. Sintesis ketiga pandangan ini menegaskan bahwa epistemologi Islam klasik bersifat multidimensional, memadukan indera, akal, intuisi, wahyu, dan pengalaman spiritual. Pendekatan ini menjadi dasar bagi pengembangan epistemologi Islam kontemporer yang holistik, yang tidak hanya mengandalkan rasionalitas, tetapi juga menghargai dimensi spiritual dan etis dalam pencarian kebenaran.