Asep Hikmatullah
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Upaya Penguatan Standardisasi Profesi Advokat di Tengah Multi Organisasi Advokat di Indonesia Mochammad An’im Falakhuddin; Khalida Azzahra; Asep Hikmatullah; Musleh Harry
CONSTITUO : Jurnal Riset Hukum Kenegaraan dan Politik Vol 5 No 1 (2026): CONSTITUO Jurnal Riset Hukum Kenegaraan dan Politik
Publisher : Prodi Hukum Tata Negara Islam (Siyasah Syar'iyyah) STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47498/constituo.v5i1.6447

Abstract

Perkembangan sistem multi organisasi advokat di Indonesia menimbulkan berbagai implikasi terhadap pelaksanaan standardisasi profesi advokat. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat pada dasarnya menghendaki adanya wadah tunggal organisasi advokat sebagai sarana pembinaan dan pengawasan profesi. Namun, dinamika praktik ketatanegaraan, putusan Mahkamah Konstitusi, serta kebijakan Mahkamah Agung mendorong lahirnya sistem multi organisasi advokat yang memberikan ruang bagi berbagai organisasi untuk menjalankan fungsi pendidikan, pengangkatan, dan pengawasan advokat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis awal kemunculan multi organisasi advokat di Indonesia, dampaknya terhadap standardisasi profesi advokat, serta upaya penguatan standardisasi profesi advokat di tengah sistem multi organisasi advokat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Sumber bahan hukum diperoleh melalui studi kepustakaan yang meliputi bahan hukum primer, sekunder, dan tersier, kemudian dianalisis secara kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem multi organisasi advokat memberikan dampak positif berupa meningkatnya akses layanan hukum dan kebebasan berserikat, tetapi di sisi lain juga menimbulkan fragmentasi kewenangan, perbedaan standar pendidikan profesi, lemahnya pengawasan kode etik, serta ketidakseragaman kualitas advokat. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi profesionalisme advokat dan integritas penegakan hukum di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan penguatan standardisasi profesi advokat melalui pembentukan standar nasional pendidikan dan pengawasan profesi, penguatan sistem pendidikan hukum berkelanjutan, serta pembentukan lembaga regulator independen yang mampu mengharmonisasikan pelaksanaan profesi advokat di tengah sistem multi organisasi advokat.
The Prohibition of Khalwah in Hadith: A Ma‘ānī al-Ḥadīth Study and Its Relevance to the Regulation of Cohabitation under Article 412 of the 2023 Indonesian Penal Code asep hikmatullah
Al-Bukhari : Jurnal Ilmu Hadis Vol. 9 No. 1 (2026): Al-Bukhari: Jurnal Ilmu Hadis
Publisher : Program Studi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/al-bukhari.v9i1.14772

Abstract

The ongoing phenomenon of cohabitation within society continues to ignite intense debates across moral, religious, and legal dimensions. While the state attempts to regulate cohabitative practices through Article 412 of the 2023 Indonesian Penal Code (KUHP), this provision has sparked widespread controversy, contrasting views that deem cohabitation a violation of religious and moral values against arguments that position it strictly within the realm of individual privacy. This study aims to analyze the prophetic tradition’s prohibition of khalwah (seclusion) using the ma‘ānī al-ḥadīth approach and to examine its relevance to the regulation of cohabitation under Article 412 of the 2023 KUHP. Employing a normative legal research method with a qualitative approach, this library-based study reveals that the prophetic prohibition of khalwah functions preventively to deter behaviors that could potentially lead to zinā (fornication/adultery). Furthermore, a normative alignment exists between the prohibition of khalwah and the cohabitation clause in the 2023 Penal Code, particularly regarding the safeguarding of public morality, decency, and the preservation of marriage and family institutions. Nevertheless, a distinct divergence in scope remains: the prohibition of khalwah operates as a preventive measure at the pre-action (potential) stage, whereas Article 412 of the KUHP penalizes cohabitation as an actualized conduct. This distinction illustrates a process of normative selection within national criminal law. The novelty of this research lies in its integration of the ma‘ānī al-ḥadīth approach to examine the prohibition of khalwah in direct relation to Article 412 of the new Indonesian Penal Code.