Dicky Ruchyat Shidik
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PEMAHAMAN JIWA DALAM FILSAFAT IBN SINA DAN TEORI PSIKOLOGI FREUD: ANALISIS KOMPARATIF LITERATUR Adam Hafidz Al Fajar; Dicky Ruchyat Shidik
Al Jabiri: Jurnal Ilmiah Studi Islam Vol. 5 No. 1 (2026): AL-JABIRI: Jurnal Ilmiah Studi Islam
Publisher : DAS Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53866/aljabiri.v5i1.658

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis secara komparatif pemahaman jiwa dalam filsafat Ibn Sina dan teori psikologi Sigmund Freud, serta mengeksplorasi potensi integrasi kedua pendekatan ini dalam psikoterapi modern. Penelitian dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research). Data dikumpulkan dari jurnal ilmiah, buku, dan artikel yang telah terindeks di Google Scholar dan Scopus. Analisis dilakukan dalam tiga langkah utama: (1) reduksi data untuk mengelompokkan informasi relevan, (2) penyajian data, serta (3) penarikan kesimpulan berdasarkan analisis tematik terhadap konsep-konsep inti kedua tokoh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibn Sina membagi jiwa manusia menjadi tiga tingkatan: vegetatif, hewani, dan rasional, dengan jiwa rasional sebagai puncak hierarki yang memiliki kapasitas untuk mengenal Tuhan. Perspektifnya menekankan pentingnya keseimbangan spiritual dan material dalam kehidupan manusia. Di sisi lain, Freud mengembangkan teori struktur kepribadian yang terdiri dari id, ego, dan superego, yang berfokus pada konflik psikodinamis dan peran alam bawah sadar. Penelitian ini menemukan bahwa integrasi pendekatan Ibn Sina dan Freud dapat menghasilkan model psikoterapi holistik yang memadukan dimensi spiritual dan psikodinamis. Ibn Sina memperkaya pendekatan Freud dengan menambahkan nilai-nilai spiritual, sementara metodologi Freud menyediakan kerangka eksplorasi konflik bawah sadar yang lebih terstruktur. Integrasi ini menawarkan peluang untuk menjawab tantangan kesehatan mental dan eksistensial dalam masyarakat modern yang lintas-budaya dan lintas-disiplin.